Kisah si senyum playboy dan Gadis jutek
Waktu tlah berubah dengan aturannya, bulan pun berganti sesuai urutanya. Kini, hanya beberapa menit lagi aku melepaskan gelarku sebagai pelajar SMP. UN sudah kami lewati. Setelah ada rintangan pasti ada jawaban, jawaban kami menang atau kalah?? Selempang kalung kelulusan itu sudah melingkar di leher kami. Berdandan sebagai ratu dan raja karena kamilah penguasa pesta ini. Bahagia karena kami bisa, menangis karena kami harus berpisah. Hanya lembaran gambar itu yang bisa menjadikan kenang kenangan dari akhir sebuah kisah. Berjabat tangan lalu memeluk tanda kami harus berpisah. “slamat tinggal kawan” ucapku perlahan.
***
Mataku terbelalak melihat luasnya SMA 13 bandung ini. Di tanganku kini tergenggam secarik kertas denah menuju kelas baruku. Terpesonanya aku melihat berbagai gedung gedung tinggi yang membuatku harus mendongak jika mau terlihat ujung atasnya. Dalam langkahku, aku tak pernah melihat arah hanya melangkah sesuai keinginanku. Kini langkahku terhenti pada sebuah tangga kecil, dengan ragu aku menaiki anak tangga itu satu persatu. Semakin banyak aku menginjak anak tangga ini, semakin jauh jarak yang aku lewati, dalam benakku “apakah ini jebakan??” sempat kaki ini tak mau bergerak karena ia lelah, tapi karena tekadku kuat aku ingin sampai dimana anak tangga itu berhenti. Sudah 35 anak tangga yang kunaiki, tapi tetap tak ada ujungnya, kutinggikan kakiku keatas diaman anak tangga itu berhenti, dan di sana hanya beberapa langkah lagi terdapat pintu. Bibirku setengah melingkar bagai bulan sabit, “akhirnya, sampai juga.” Ucapku menang.
Klikk,.. suara cklikan gagang pintu itu, yang ternyata tak terkunci sama sekali. Perlahan aku membuka pintu bermaksud ada kejutan dibalik pintu itu, dan waw!! Dibalik pintu itu ternyata gedung tak berdinding puncak dari sebuah gedung tertinggi di sekolah ini. Angin angin itu berjabat dengan kain kain yang kukenakan, sehingga rok ini terbalik. Alunan angin itu menenangkan hatiku, kemudian mengingatkan aku tentang mos pertamaku. Ku lirik jam tanganku sudah menunjukan pukul 08.00.
“gawat, telat nih” aku berlari keluar mencari pintu itu, kemudian menuruni anak tangga dengan cepat. Setelah berhasil melewati anak tangga itu, tubuhku terbungkuk dengan tompangan dua tangan diatas lutut kakiku kemudian terengah engah. Setelah puas bernafas aku kembali berlari dan mencari kelas baruku. Dalam kecepatan 80 kilo/meter aku mengerem disebuah pintu kelas yang terjaga seorang lelaki tinggi bertolak belakang dari arahku.
“permisi,saya mau lewat??” mohonku.
Lelaki itu berbalik arah, “kamu telat?? Jam berapa ini, gak konsisten banget sih??” tegasnya.
Aku hanya bisa terdiam, tak berani menjawab bukan karena aku takut, tapi karena lelaki si senyum playboy itu kini berada di depanku dan memarahiku.
Lambaian tanganya menyapa disetiap selasela mataku, dekat dan sangat dekat. Tapi aku tak berani menegurnya untuk tidak melambaikan tangan itu terlalu dekat. Aku hanya terdiam melihat gayanya yang lucu.
“woy!!” bentaknya. Suara itu baru saja meledakan telingaku sehingga dengan reflex aku mengusap telingaku tanda kesakitan.
“maaf, tadi ke..sa..sar.. ka” jawabku sedikit gagap. Dia hanya menggelang kepala lalu, pergi meninggalkanku tanpa menyurukku masuk kekelas.
***
Hamparan gedung gedung tinggi itu, terlihat jelas didepan mataku. Berdiri tegak merentangkan tanganku dan memejamkan mata lalu aku bisa merasakan udara segar ini. Sunyi hanya suara angin angin itu bersahutan yang terdengar di telingaku. Beberapa petikan gitar menemani rasa kesendirian, aku duduk bersimpuh tapi aku tak bermain gitar. Jantungku berdebar cepat, saatku menyadari bahwa ada seseorang selain aku disini.
Aku tak berani bergerak dari tempat yang kuhuni sekarang, hanya antena telinga itu yang terus memancar, mencari sumber dimana suara itu berasal. Beberapa saat kemudian, aku mendengar seorang lelaki menyanyi lagu lagu sendu, mungkin dia sedang patah hati. Liriknya yang puitis membuatku terhanyaut akan sosok penciptanya, suaranya yang merdu mengingatku ingin bertemu siapa pemiliknya. Ketenangan itu harus berakhir karena suara bel menyuruhku pergi dari sini.
Berkali kali aku menengok jam tanganku, sudah hampir dua jam aku menunggu angkot itu datang, tapi tak aku temukan dia. Emosiku terus melaju sampai menjadi yang teratas, aku tak pernah suka jika harus menunggu dan menunggu, belum lagi panasnya matahari membuatku sedikit pusing. dari lubang hidungku ada sesuatu yang mengalir tapi bukan air, dia merah dan kental. Kuusap perlahan dengan tanganku, lalu bergegas membersihkannya kembali dengan tisu yang ada di genggaman tanganku. Tingkahku yang kepanikan kala itu, mencoba tetap tengan dengan menaruh perhatian pada sekelilingnya, di ujung sana lelaki si senyum playboy itu melihatku jenuh, tapi tertarik akan aku. Dia berjalan mendekatiku, lalu mengambil sapu tangannya dari balik saku celannya dan mengusap darah darah itu sampai bersih.
“kamu, habis makan apa?? Kok sausnya sampai belepotan gini??” tanyanya padaku. Dia fikir, ini saus tomat yang belepotan sampai lubang hidungku. Katanya, perhatiannya dan tatapannya membuatku terhipnotis akan tingkahnya.
“mmm,.. iya tadi habis makan,..”jawabku gugup.
“kamu keysha anak 10A yang tadi telat kan??” ucapnya kembali. Aku hanya mengangguk lalu menunduk.
Beberapa menit kemudian laju angkot itu menjemput kami yang hampir saja menjamur. Dia mengekang kuat pergelangan tanganku lalu menarikku masuk angkot dan duduk di sampingnya. Aku bisa merasakan duduk berdampingan dengan orang asing tapi merasa dekat dan nyaman, dia hanya melirikku dengan senyuman manisnya itu. Sapu tangan berwarna biru muda tadi, ia lipat dengan rapih lalu memasukan ke saku bajunya.
“nama kaka siapa??” ucap perkenalanku.
“IQBAL” jawabnya singkat. Senyum playboynya yang manis itu dia tunjukan lagi, sekarang bertambah dengan tatapan tajamnya. Aku terpaku hanya bisa terdiam menatap matanya, membisu. Tak lama dia tersenyum kemudian dia bangkit dari tempat duduknya, memukul punggung supir lalu berkata “kirrii,..” seketika angkot mengerem dan berhenti dimana dia ingin berhenti. Angkot ini melaju meninggalkan kak iqbal sendiri berdiri disana, aku hanya bisa menatap untuk kata perpisahan.
***
“Key, reno kecelakaan. Dia meninggal, sekarang anak anak pada mau ngelayat. Kamu mau ikut??” jelas dira pada telefon. aku hanya bisa terdiam kala itu, air mataku pun turun dengan sendirinya. Ya tuhan,.. orang yang dulu pernah menyatakan cintanya padaku, yang mau berbagi kisahnya denganku kini telah pergi. Reno, kenapa kamu harus pergi disaat aku membutuhkanmu. Aku memang tak pernah menyukainnya, tapi hati ini begitu hancurnya setelah tahu dia tlah pergi dari sisiku. Kertas tisu tisu itu berhamburan pergi mengikuti gerak gerik angin yang membawa sejuta air mata. “ahhhhh,… renooo” suara itu bergema keras dan sangat keras. aku terjatuh dan terduduk, lemas tak berdaya, “reno, yang sakit aku bukan kamu!! Kenapa kamu yang pergi?? Lalu aku bagaimana??” jeritan hati ini terus saja mengucap tanpa henti.
Kertas tisu itu terbang melayang mengikuti nada nada angin, sampai terhenti di mata seorang lelaki yang asik tengah mengisap beberapa puntUng rokok. “tisu siapa nih??” herannya dalam hati. Lelaki itu mencari dimana tisu tisu itu berawal. Dia hanya bisa terdiam, emosinya tak lagi tercium hanya ada rasa kekaguman pada seseorang gadis yang duduk di sana menyanyikan sebuah lagu dengan merdunya. Lagu itu lagu yang pernah lelaki itu bawakan untuk kekasihnya yang sudah tiada. Lembaran cerita cerita dia buka perlahan demi perlahan, menyaksikan di setiap kisahnya. Matanya memerah bukan karena kemarahan tapi karena keharuan yang ada dalam kisah cerita hidupnya, wanita yang sangat ia sayangi meninggal akibat kecelakaan di atas ambang penglihatannya. Gitar yang dia genggam kala itu terjatuh dan menjadi beberapa kepingan kemudian pergi dan berlari.
Jatuhan gitar terdengar sampai telinga. Aku melihatnya dengan samar karena tertutup air mata. Ku usap perlahan, melihat lelaki itu berlalu aku terheran. Gitarnya tak lagi bersatu sudah pecah berantakan, bahkan senarnya pun sudah putus dari jeratnya. Melihat gitar itu hancur kini aku bisa membayangkan bagaimana hancurnya tubuh reno saat itu, darah darah bercucuran, matanya tak lagi memandang, dan detak jantungnya tak lagi berdenyut. Ku peluk erat gitar itu bayangkan sebagai tubuh reno yang hancur seperti gitar itu.
seseorang yang hanya mengutarakan perasaannya lewat tulisannya, dia bukanlah seseorang yang pengecut, yang menangis dibalik katanya, yang mampu bercerita lewat tulisannya, tapi seorang penulis adalah seseorang pemberani yang bercerita dengan rangkaian abjadnya, karena tulisan bisa terlihat oleh siapapun dan kapanpun. sedangkan pencerita, dia hanya mampu menceritakan dengan orang yang ingin ia beri ceritanya
Kamis, 23 Februari 2012
part 1
Kisah si senyum playboy dan gadis jutek
Si planet merah sudah berada di garis puncak dimana ia bersinar. Air keringatku mulai perlahan mengalir, di tambah emosiku kini sedang tidak labil jadi wajarlah, jika ocehan bebek itu terdegar tak karuan. Entah apa yang ada dalam benakku, hanya ada bagaimana cara untuk meluapkan rasa kesalku ini, yang terlanjur terkubur dalam dalam di dalam tubuhku. “huh,.. cape” omelku, dira yang mendengarnya hanya melihatku lalu menggeleng dan kembali membaca novel yang ada di tanggannya.
“tujuan kita sebenarnya kemana sih??” ucap kata tanyaku
“nunggu angkot, terus konsul” jawabnya pendek.
Gejolak amarahku sekarang sudah berada pada level 9 kemudian berlanjut ke level 10. Aku berdiri dari kursi, lalu melirik sinis pada dira. “jangan perhatikan novelnya, perhatikan juga anggotnya. Kalau caranya kaya gini, mana bisa dapet angkot??” teriak kesal yang tak berujung. Dira yang mendengarnya, hanya terdiam, lalu menusukkan telunjuknya pada lubang telinga.
“iya, tuh angkotnya “ tunjuknya pada angkot kuning itu.
Pijakan kaki ku ketegaskan keras keras pada bumi. Lalu melangkah maju, dan berjalan layak anak kecil tak dapat permen gratisnya. Dalam ruang sempit ini, aku berbagi ruang pada penumpang lainnya. Berdesak sesak, merapat rekat, bagai lem. Emosiku semakin menjulang tinggi sampai puncak, kuremaskan telapak tanggan pada rok smpku, untuk memuaskan rasa kesalku terhadap anak anak smp lain yang bercanda tak bermutu, sampai tertawa layak nenek sihir di dalam angkot kecil ini. Ahhh,.. ingin ku teriak tapi, aku hanya bisa terdiam menelan rasa kesesalanku yang semula hanya beberapa level saja. Dalam renungan menunggu anak anak smp itu turun, atau aku yang sampai pada tempat akhir, datang segerombol anak laki laki satu tahun lebih tua dariku. Ya,.. aku keysha anak 3 smp 8 bandung, yang kini sedang berada pada ujung masalah. Sudah cukup bagiku, kekonyolan konyolan yang di buat oleh anak smp smp itu, kini datang sekumpulan laki laki yang sok bertampang ok, gaul, dan bla bla bla… kini emosiku sudah sedikit menurun, yah sedikit bisa terkontlol.
Senyum playboynya yang keren dan manis itu, membuat aku ingin tersenyum. Senyumnya memang menyakitkan, tapi aku rasa itu rasa dimana dari salah satu sekumpulan lelaki itu untuk mengungkapkan rasa senangnya, mungkin melihat kekonyolan yang di buat anak smp smp itu. Tatapannya tajam, tapi merindukan. Sekejap ku alihkan pandanganku pada yang lain, tidak ingin terbawa oleh Susana playboynya.
Beberapa meter lagi, cerita dalam angkot ini akan berakhir. Aku bergegas bersiap, merapikan beberapa helai kain bajuku lalu berkata “kirrriiiii,..” dengan cepat angkot mengerem lalu berhenti. Dengan dua kaki sekaligus aku turun dari angkot, lalu membayar dua helai kertas. Dira yang mendahuluiku melesat pergi masuk kedalam, sedangkan aku masih tetap berdiri melihat lelaki itu melongokkan kepalanya dari balik jendela dan tersenyum, sampai laju angkot itu tak terlihat lagi.
***
Omelan omelan alaremku sudah terdengar membosankan. Setengah malas aku bangun lalu melihat jam dinding, “oh, baru jam setengah enam toh??” tanpa sadar, aku kembali merebakan tubuhku dalam ranjang, lalu mencari posisi nyaman. Dalam mimpiku, aku bermimpi kalau mamah sedang menyiramku dengan segayung air. Dalam mimpiku juga aku bisa merasakan bagaimana ocehan mamah terdengar melesat sampai telingaku, tanpa sadar aku meraba bantal gulingku yang tentu basah. Aku bangun dari mimpi lalu melihat mamah berdiri di depanku dengan matanya yang melotot. “ampun mahhh,…” putaran tangan itu menekan kuat di telingaku sehingga terasa pedas.
**
Pintu gerbang hampir menutup, dengan cepat aku melesat bagai anak panah. Syukurlah, aku bisa masuk tanpa harus di beri hukuman karena terlambat. Ku lontarkan senyumku pada pak satpam yang berjaga kala itu, karena sudah memberiku kesampatan. Langkah langkah ini penuh kepuasan, puas atas hasil kuberlari cepat demi mengejar gerbang itu. Langkah ku terhenti pada salah satu ruang kelas IXA. Banyak anak anak bertebaran dimana mana, mereka duduk bukan dalam posisi yang sesungguhnya, memang seperti inilah Susana kelas jika bel belum berbunyi, kacau berantakan.
“dira, masalah kansul yang kemarin aku masih belum ngerti nih??” manjaku yang tiba tiba saja mengejutkan dira yang asik dengan novelnya.
“yang mana??” tanyanya
“yang ini,” tunjukku pada soal no 9
Belum selesai dira mengajariku, tiba tiba saja pengawas datang. Kericuhan yang dibuat anak anak berubah menjadi kebisuan. Sunyi, hanya ada suara KM menyiapkan salam pada pengawas TO. Waktu menjelang UN tinggal beberapa bulan lagi, jadi kami harus ekstra kerja keras untuk belajar, dan salah satunya adalah dengan mengadakan TO (tri out) sekolah.
Lembaran lembaran soal ku bolak balikan secara berulang. Memilih jawaban diantara pilihan a,b,c dan d, jika ragu aku hanya bisa memilih sesuai keyakinan hati. Tenang ini TO yang terakhir ucapku dalam hati.
Mata ku melirik kesana dan kemari, terlihat wajah wajah mereka yang tampak kebingungan menatap lekat soal, lalu menggelang geleng kepala tanda “TIDAK TAHU”. Aku masih bisa tertawa disaat mereka kebingungan, padahal akupun begitu. Lama waktu yang mereka berikan untuk kami mengerjakan berpuluh puluh soal yang tentunya membuat kami pusing. Akhirnya, bel berbunyi tanda waktu sudah habis kini ,tiba waktunya untuk kami mengumpulkan lembar jawaban dan soal kemudian beranjak pergi dan pulang.
“key, kamu sekarang les kan??” tanya zeze yang tiba tiba saja muncul didepanku.
“iya, tapi ini jam berapa?? Masih lama kan??” keluhku
“jadi??” tanyanya kembali.
“ke perpus umum yu??” ajakku pada zeze, yang terlihat malas jika dengar kata “PERPUS”
“yah,. Apa boleh buat??” jawabnya menyerah.
Sudah hampir 3 menit kami menunggu angot datang, tapi tetap tak ada satupun angkot yang berhenti dan mau menerima kami. Setelah cukup bersabar, akhirnya angkot datang menjemput, lalu melaju cepat meninggalkan smp 8 bandung. Kini aku tak harus berdesak desak lagi dengan penumpang yang lain, karena angkot ini hanya mendapat penumpang 4 orang, yaitu aku, zeze, dan 2 orang yang tak ku kenal. Seiringnya jalan, aku memperhatikan jalan jalan disekitar tak ada yang menakjubkan hanya saja aku suka jika melihat arah belakang dari angkot. Perlahan lahan angkot itu mendekati jalan yang didepan, kemudian pergi begitu saja tanpa ada jejak sedikitpun. Seperti jejak sisenyum playboy manis itu, dia datang tiba tiba lalu pergi tak meninggalkan jejak sedikitpun.
“heh, key.. itu perpusnya kelewat” bentak zeze dalam lamunanku.
“eh,.. iya kiriiii” teriakku sepontan.
Kami turun kemudian melaju arah berlawanan dan mencari cari letak perpus yang sudah kami lewati. Kini kami sudah berada di depan perpus, yang terhalang oleh jalan penuh kendara. Dengan hati hati kami melaju setapak demi setapak untuk menghindari dari kendara itu. Kita (aku dan dia) bertatap mata walau hanya sesaat, dia melaju dengan motornya dan aku melangkah dengan kakiku, kendara dan langkah itu terus melaju tapi tatap mata kita terus mengawasi sampai jarak yang memisahkan kita.
“eh, key lihat jalan kedepan dong?? Jangan kebelakang” bentak zeze tak karuan.
“iya, iya”belaku.
**
Usai meminjam beberapa buku, kami pergi meninggalkan perpus. Jarak antara tempat les kami dan perpus lumayan tidak terlalu jauh, jadi kami hanya berjalan untuk menuju tempat les. Bunyi bel itu terdengar sampai keluar, “ya tuhan,.. kita telat lagi” kagetku pada zeze. Kami berhenti untuk bertatap wajah sebentar, lalu berlari ketakutan.
Garis finis sudah ada di depan mata, hanya butuh keberanian untuk membuka pintu supaya kami bisa masuk dan belajar. Suasana kala itu tidaklah menegangkan hanya kekonyolan, dari tadi kami berdiri menatap satu persatu diantara kami, siapa yang paling berani masuk pertama dan mengucapkan salam. Gemetar tanganku menekan gagang pintu itu, akhirnya terbuka juga. Belum kami duduk, guru yang saat itu mengajar mengucapkan salam lalu keluar meninggalkan kelas.
“kalian habis dari mana aja??” Tanya farah teman satu kelas.
“loh?? Pelajarannya habis ya?” tanyaku kepolosan.
“kamu gak denger?? Tadi ada bel??” Sela sonya.
“loh?? Bukannya itu bel masuk yah??” saut zeze terlalu polos. Tak ada jawaban dari mereka semua, mereka hanya diam lalu membalik arah dari posisi hadap kami.
“jajan yu??” ajak zeze tiba tiba. Aku tak menjawab, berbalik arah lalu pergi meninggalkan kelas tanpa menaruh tas yang masih saja tergendong.
Aku melangkah tanpa arah, seperti manusia tak tahu arah mata angin. Membiarkan zeze yang terus saja berkicau ditelingaku sehingga aku merasa risih lalu kupercepat langkahku bermaksud meninggalkan zeze dibelakangku.
Perutku mulai memberontak, mungkin didalam perutku cacing cacing itu demo atas perlakuanku yang sedari pagi belum makan sama sekali. Syukurlah, ada banyak pilihan jajanan di sini ada bapau, siomay dll. Tepat di depan tempat les ku, ada lapangan sepak bola. Disana banyak anak anak yang berkumpul mengenakan seragam sepak bola, mungkin akan ada pertandingan?? Fikirku. Dua orang datang dengan sepeda motornya, yang satu menyetir dan lainnya membonceng. Baju berwana hijau itu tampak persis seperti lelaki si senyum playboy itu, dia baru saja mendapat baju sepak bola berwarna hijau dan berno punggung 12 tertera di atas no punggung itu tertulis nama IQBAL. Apakan lelaki itu bernama IQBAL??
Si planet merah sudah berada di garis puncak dimana ia bersinar. Air keringatku mulai perlahan mengalir, di tambah emosiku kini sedang tidak labil jadi wajarlah, jika ocehan bebek itu terdegar tak karuan. Entah apa yang ada dalam benakku, hanya ada bagaimana cara untuk meluapkan rasa kesalku ini, yang terlanjur terkubur dalam dalam di dalam tubuhku. “huh,.. cape” omelku, dira yang mendengarnya hanya melihatku lalu menggeleng dan kembali membaca novel yang ada di tanggannya.
“tujuan kita sebenarnya kemana sih??” ucap kata tanyaku
“nunggu angkot, terus konsul” jawabnya pendek.
Gejolak amarahku sekarang sudah berada pada level 9 kemudian berlanjut ke level 10. Aku berdiri dari kursi, lalu melirik sinis pada dira. “jangan perhatikan novelnya, perhatikan juga anggotnya. Kalau caranya kaya gini, mana bisa dapet angkot??” teriak kesal yang tak berujung. Dira yang mendengarnya, hanya terdiam, lalu menusukkan telunjuknya pada lubang telinga.
“iya, tuh angkotnya “ tunjuknya pada angkot kuning itu.
Pijakan kaki ku ketegaskan keras keras pada bumi. Lalu melangkah maju, dan berjalan layak anak kecil tak dapat permen gratisnya. Dalam ruang sempit ini, aku berbagi ruang pada penumpang lainnya. Berdesak sesak, merapat rekat, bagai lem. Emosiku semakin menjulang tinggi sampai puncak, kuremaskan telapak tanggan pada rok smpku, untuk memuaskan rasa kesalku terhadap anak anak smp lain yang bercanda tak bermutu, sampai tertawa layak nenek sihir di dalam angkot kecil ini. Ahhh,.. ingin ku teriak tapi, aku hanya bisa terdiam menelan rasa kesesalanku yang semula hanya beberapa level saja. Dalam renungan menunggu anak anak smp itu turun, atau aku yang sampai pada tempat akhir, datang segerombol anak laki laki satu tahun lebih tua dariku. Ya,.. aku keysha anak 3 smp 8 bandung, yang kini sedang berada pada ujung masalah. Sudah cukup bagiku, kekonyolan konyolan yang di buat oleh anak smp smp itu, kini datang sekumpulan laki laki yang sok bertampang ok, gaul, dan bla bla bla… kini emosiku sudah sedikit menurun, yah sedikit bisa terkontlol.
Senyum playboynya yang keren dan manis itu, membuat aku ingin tersenyum. Senyumnya memang menyakitkan, tapi aku rasa itu rasa dimana dari salah satu sekumpulan lelaki itu untuk mengungkapkan rasa senangnya, mungkin melihat kekonyolan yang di buat anak smp smp itu. Tatapannya tajam, tapi merindukan. Sekejap ku alihkan pandanganku pada yang lain, tidak ingin terbawa oleh Susana playboynya.
Beberapa meter lagi, cerita dalam angkot ini akan berakhir. Aku bergegas bersiap, merapikan beberapa helai kain bajuku lalu berkata “kirrriiiii,..” dengan cepat angkot mengerem lalu berhenti. Dengan dua kaki sekaligus aku turun dari angkot, lalu membayar dua helai kertas. Dira yang mendahuluiku melesat pergi masuk kedalam, sedangkan aku masih tetap berdiri melihat lelaki itu melongokkan kepalanya dari balik jendela dan tersenyum, sampai laju angkot itu tak terlihat lagi.
***
Omelan omelan alaremku sudah terdengar membosankan. Setengah malas aku bangun lalu melihat jam dinding, “oh, baru jam setengah enam toh??” tanpa sadar, aku kembali merebakan tubuhku dalam ranjang, lalu mencari posisi nyaman. Dalam mimpiku, aku bermimpi kalau mamah sedang menyiramku dengan segayung air. Dalam mimpiku juga aku bisa merasakan bagaimana ocehan mamah terdengar melesat sampai telingaku, tanpa sadar aku meraba bantal gulingku yang tentu basah. Aku bangun dari mimpi lalu melihat mamah berdiri di depanku dengan matanya yang melotot. “ampun mahhh,…” putaran tangan itu menekan kuat di telingaku sehingga terasa pedas.
**
Pintu gerbang hampir menutup, dengan cepat aku melesat bagai anak panah. Syukurlah, aku bisa masuk tanpa harus di beri hukuman karena terlambat. Ku lontarkan senyumku pada pak satpam yang berjaga kala itu, karena sudah memberiku kesampatan. Langkah langkah ini penuh kepuasan, puas atas hasil kuberlari cepat demi mengejar gerbang itu. Langkah ku terhenti pada salah satu ruang kelas IXA. Banyak anak anak bertebaran dimana mana, mereka duduk bukan dalam posisi yang sesungguhnya, memang seperti inilah Susana kelas jika bel belum berbunyi, kacau berantakan.
“dira, masalah kansul yang kemarin aku masih belum ngerti nih??” manjaku yang tiba tiba saja mengejutkan dira yang asik dengan novelnya.
“yang mana??” tanyanya
“yang ini,” tunjukku pada soal no 9
Belum selesai dira mengajariku, tiba tiba saja pengawas datang. Kericuhan yang dibuat anak anak berubah menjadi kebisuan. Sunyi, hanya ada suara KM menyiapkan salam pada pengawas TO. Waktu menjelang UN tinggal beberapa bulan lagi, jadi kami harus ekstra kerja keras untuk belajar, dan salah satunya adalah dengan mengadakan TO (tri out) sekolah.
Lembaran lembaran soal ku bolak balikan secara berulang. Memilih jawaban diantara pilihan a,b,c dan d, jika ragu aku hanya bisa memilih sesuai keyakinan hati. Tenang ini TO yang terakhir ucapku dalam hati.
Mata ku melirik kesana dan kemari, terlihat wajah wajah mereka yang tampak kebingungan menatap lekat soal, lalu menggelang geleng kepala tanda “TIDAK TAHU”. Aku masih bisa tertawa disaat mereka kebingungan, padahal akupun begitu. Lama waktu yang mereka berikan untuk kami mengerjakan berpuluh puluh soal yang tentunya membuat kami pusing. Akhirnya, bel berbunyi tanda waktu sudah habis kini ,tiba waktunya untuk kami mengumpulkan lembar jawaban dan soal kemudian beranjak pergi dan pulang.
“key, kamu sekarang les kan??” tanya zeze yang tiba tiba saja muncul didepanku.
“iya, tapi ini jam berapa?? Masih lama kan??” keluhku
“jadi??” tanyanya kembali.
“ke perpus umum yu??” ajakku pada zeze, yang terlihat malas jika dengar kata “PERPUS”
“yah,. Apa boleh buat??” jawabnya menyerah.
Sudah hampir 3 menit kami menunggu angot datang, tapi tetap tak ada satupun angkot yang berhenti dan mau menerima kami. Setelah cukup bersabar, akhirnya angkot datang menjemput, lalu melaju cepat meninggalkan smp 8 bandung. Kini aku tak harus berdesak desak lagi dengan penumpang yang lain, karena angkot ini hanya mendapat penumpang 4 orang, yaitu aku, zeze, dan 2 orang yang tak ku kenal. Seiringnya jalan, aku memperhatikan jalan jalan disekitar tak ada yang menakjubkan hanya saja aku suka jika melihat arah belakang dari angkot. Perlahan lahan angkot itu mendekati jalan yang didepan, kemudian pergi begitu saja tanpa ada jejak sedikitpun. Seperti jejak sisenyum playboy manis itu, dia datang tiba tiba lalu pergi tak meninggalkan jejak sedikitpun.
“heh, key.. itu perpusnya kelewat” bentak zeze dalam lamunanku.
“eh,.. iya kiriiii” teriakku sepontan.
Kami turun kemudian melaju arah berlawanan dan mencari cari letak perpus yang sudah kami lewati. Kini kami sudah berada di depan perpus, yang terhalang oleh jalan penuh kendara. Dengan hati hati kami melaju setapak demi setapak untuk menghindari dari kendara itu. Kita (aku dan dia) bertatap mata walau hanya sesaat, dia melaju dengan motornya dan aku melangkah dengan kakiku, kendara dan langkah itu terus melaju tapi tatap mata kita terus mengawasi sampai jarak yang memisahkan kita.
“eh, key lihat jalan kedepan dong?? Jangan kebelakang” bentak zeze tak karuan.
“iya, iya”belaku.
**
Usai meminjam beberapa buku, kami pergi meninggalkan perpus. Jarak antara tempat les kami dan perpus lumayan tidak terlalu jauh, jadi kami hanya berjalan untuk menuju tempat les. Bunyi bel itu terdengar sampai keluar, “ya tuhan,.. kita telat lagi” kagetku pada zeze. Kami berhenti untuk bertatap wajah sebentar, lalu berlari ketakutan.
Garis finis sudah ada di depan mata, hanya butuh keberanian untuk membuka pintu supaya kami bisa masuk dan belajar. Suasana kala itu tidaklah menegangkan hanya kekonyolan, dari tadi kami berdiri menatap satu persatu diantara kami, siapa yang paling berani masuk pertama dan mengucapkan salam. Gemetar tanganku menekan gagang pintu itu, akhirnya terbuka juga. Belum kami duduk, guru yang saat itu mengajar mengucapkan salam lalu keluar meninggalkan kelas.
“kalian habis dari mana aja??” Tanya farah teman satu kelas.
“loh?? Pelajarannya habis ya?” tanyaku kepolosan.
“kamu gak denger?? Tadi ada bel??” Sela sonya.
“loh?? Bukannya itu bel masuk yah??” saut zeze terlalu polos. Tak ada jawaban dari mereka semua, mereka hanya diam lalu membalik arah dari posisi hadap kami.
“jajan yu??” ajak zeze tiba tiba. Aku tak menjawab, berbalik arah lalu pergi meninggalkan kelas tanpa menaruh tas yang masih saja tergendong.
Aku melangkah tanpa arah, seperti manusia tak tahu arah mata angin. Membiarkan zeze yang terus saja berkicau ditelingaku sehingga aku merasa risih lalu kupercepat langkahku bermaksud meninggalkan zeze dibelakangku.
Perutku mulai memberontak, mungkin didalam perutku cacing cacing itu demo atas perlakuanku yang sedari pagi belum makan sama sekali. Syukurlah, ada banyak pilihan jajanan di sini ada bapau, siomay dll. Tepat di depan tempat les ku, ada lapangan sepak bola. Disana banyak anak anak yang berkumpul mengenakan seragam sepak bola, mungkin akan ada pertandingan?? Fikirku. Dua orang datang dengan sepeda motornya, yang satu menyetir dan lainnya membonceng. Baju berwana hijau itu tampak persis seperti lelaki si senyum playboy itu, dia baru saja mendapat baju sepak bola berwarna hijau dan berno punggung 12 tertera di atas no punggung itu tertulis nama IQBAL. Apakan lelaki itu bernama IQBAL??
Si Dia
NONA CANTIK
Gini nih, kalo punya masalah sama nona cantik, gak bakalan selesai selesai. Biasalah nona cantik inikan, suka banget yang namanya TP sana TP sini, jadi wajarlah... kalo banyak yang nglirik dia tanda sinis. Kalo satu kelompok sama si nona cantik,.. jangan harap kamu itu bisa jadi yang terbaik, karena semunya dia yang ngatur..!!. dan sekarang masalahnya saya itu sering banget satu kelompok sama nona cantik, terpaksa semua kerjaan saya yang beresin, sedangkan dia Cuma ngatur dan... TP sana TP sini, apalagi kalo ada cowo udah deh, tuh yang namanya rambut dia kibar kibarin, katanya biar auranya keluar. Karena kejadian itu, banyak cowo yang merhatiin dia, sekali aja ada cowo yang suka merhatiin dia slalu bilang “ihh,... cowo itu tuh, genit pisan,.. liatin saya aja,..” hey iyuuuuhhh,.... kalo dia bilang gitu, males banget jadi deket sama tuh anak,..! dan inilah kisah si nona cantik
Gini nih, kalo punya masalah sama nona cantik, gak bakalan selesai selesai. Biasalah nona cantik inikan, suka banget yang namanya TP sana TP sini, jadi wajarlah... kalo banyak yang nglirik dia tanda sinis. Kalo satu kelompok sama si nona cantik,.. jangan harap kamu itu bisa jadi yang terbaik, karena semunya dia yang ngatur..!!. dan sekarang masalahnya saya itu sering banget satu kelompok sama nona cantik, terpaksa semua kerjaan saya yang beresin, sedangkan dia Cuma ngatur dan... TP sana TP sini, apalagi kalo ada cowo udah deh, tuh yang namanya rambut dia kibar kibarin, katanya biar auranya keluar. Karena kejadian itu, banyak cowo yang merhatiin dia, sekali aja ada cowo yang suka merhatiin dia slalu bilang “ihh,... cowo itu tuh, genit pisan,.. liatin saya aja,..” hey iyuuuuhhh,.... kalo dia bilang gitu, males banget jadi deket sama tuh anak,..! dan inilah kisah si nona cantik
Selasa, 21 Februari 2012
LIRIK LAGU
kesedihanku
by. sammy simorangkir
sepinya hari yang ku lewati
tanpa ada dirimu menemani
sunyi ku rasa dalam hidupku
tak mampu ku tuk melangkah
masih ku ingat indah senyummu
yang selalu membuatku mengenangmu
terbawa aku dalam sedihku
tak sadar kini kau tak di sini
engkau masih yang terindah
indah di dalam hatiku
mengapa kisah kita berakhir
yang seperti ini
masih ku ingat indah senyummu
yang selalu membuatku mengenangmu
terbawa aku dalam sedihku
tak sadar kini kau tak di sini
engkau masih yang terindah
indah di dalam hatiku
mengapa kisah kita berakhir
yang seperti ini
yang seperti ini
engkau masih yang terindah
indah di dalam hatiku
mengapa kisah kita berakhir
yang seperti ini
hampa kini yang ku rasa
menangis pun ku tak mampu
hanya sisa kenangan terindah
dan kesedihanku
by. sammy simorangkir
sepinya hari yang ku lewati
tanpa ada dirimu menemani
sunyi ku rasa dalam hidupku
tak mampu ku tuk melangkah
masih ku ingat indah senyummu
yang selalu membuatku mengenangmu
terbawa aku dalam sedihku
tak sadar kini kau tak di sini
engkau masih yang terindah
indah di dalam hatiku
mengapa kisah kita berakhir
yang seperti ini
masih ku ingat indah senyummu
yang selalu membuatku mengenangmu
terbawa aku dalam sedihku
tak sadar kini kau tak di sini
engkau masih yang terindah
indah di dalam hatiku
mengapa kisah kita berakhir
yang seperti ini
yang seperti ini
engkau masih yang terindah
indah di dalam hatiku
mengapa kisah kita berakhir
yang seperti ini
hampa kini yang ku rasa
menangis pun ku tak mampu
hanya sisa kenangan terindah
dan kesedihanku
Sabtu, 18 Februari 2012
DETEKTIV VS TERORIS
SMA adalah sekolah menengah ke atas. Menurut tante gue sih, sma adalah saat saat yang paling di tunggu tunggu remaja, soalanya di mana sma adalah masa masa remaja menjadi lebih dewasa, itu sih kata tante gue ya BUKAN gue.
Menurut gue, mau sma ke, mau smp ke, mau sd ke, bahkan tk pun, kalau kita mau merubah sikap kita menjadi lebih dewasa kapan aja bisa kok, gak perlu nunggu sma lagi kalee,..
Kenalin gue rara indra stianing dwi putri, muak gue dengan nama stianing dwi putri kaya nama ningrat gitu,.. emang sih gue keturunan ningrat.
Ciri-ciri gue:
Cantik (menurut gue)
Tinggi
Putih langsat
Rambut hitam, panjang sebahu
Gak minus
Bulu mata lentik
Gak sipit
Tapi, faktanya??
Jelek (kata temen temen)
tinggi
Kulit sawo mateng
Rambut lurus tak terawat
Mins 7
Bulu mata tebel
Sipit (kaya orang china)
Gue sma di 15 jakarta kata orang orang sih, itu sma paling mahal di jakarta. Selama di sma walupun gue keturunan ningrat, tapi gak ada tuh yang percaya. Malahan gue di samaain sama anaknya tukang sapu di jalanan. Keluarga gue emang gak banget kalo soal harta walaupun keluarga NINGRAT mereka tetep aja tuh, suruh anak satu satunya ini yang paling cantik naik angkot, bahkan ojeg. TEGA..!!
Kring,...
Tanda masuk..!!
Biasalah, anak ningrat suka telat, tapi khusus anak ningrat di bebaskan hukman
Satpam : kebiasaan telat lagi telat lagi,..
Rara : pak, namanya juga naik angkot ya lama pak!! Rara boleh masuk kan pak
Satpam : ah,.. gak bisa kamu kan bukan anak ningrat!!
Rara : pak, harus berapa kali lagi sih, rara bilang sama bapak rara ini juga keturunan ningrat pak, sama
kaya sesil, candra, boby,....
Satpam : gak gak,.. kamu ini sudah telat bohong lagi, sudah sana bersihkan semua sampah ini sampai bersih
Rarra : pak..!!
Hati gue : sesil, chandra, boby juga telat tuh, kok gak di hukum ya?? Ini gak adail!!
Sesil, boby, chandra : rajin nih, yang bersih ya??
Dari dulu gue slalu bermimpi buat jadi sutradara film, tapi yah?? Namanya juga anak ningrat, yang pastinya harus ngurusin perusahaan keluarga, kelak nanti.
Caca, satu satunya orang di sma 15 jakarta ini, yang percaya kalau gue keturunan NINGRAT. Caca cewe cantik, paling beken di sekolah, bahkan reportasinya ngalahin sesil, juga kapten chirleders, salah satu siswa berprestasi, baik dan,.. gak sombang itu, deketin gue
Caca : udah tau telat, masih aja rekam sana, rekam sini
Rara : ya truss,..??
Caca : ra, gue besok mau pindah, ke ausi.
Mampus gue, caca PINDAH?? Gue sama siapa? Siapa lagi yang percaya kalo gue keturunan ningrat? Siapa yang bantuin gue bikin pr? Siapa yang ngajak gue ke kantin? Siapa yang bisa di jadiin temen curhat gue, kalo dia gak ada?? Siapa??
Rara : pindah aja, (pura-pura gak khawatir, dalam hati MAMPUS) emang kenapa sih mau pindah?
Caca : gue, dapet basiswa ra, bokap kan udah gak ada, jadi gue gak mau nyia nyiain kesempatan ini
Rara : tapi, kan ada gue ca?
Caca : lo?? Bisa apa? Thanks ya buat slama ini, lo baik sama gue.
Gue ngambek, pergi deh gue
Setelah caca pergi ke ausi, gue mulai ngrasa sendiri, sepi!! Kaya kuburan,.. akibatnya kerjaan gue selama di sekolah ya rekam sana rekam sini. Dan gue mulai berniat buat bikin film lewat sma 15 jakarta ini.
Sason 1
Kisah cinta segi tiga antara roy, manda, dan sesil. Manda dan sesil ini temenan dari mereka tk. Roy dan sesil adalah pasangan paling mahal di sini, gimana gak?? Roy cowok keren, bego, juga kapten bolla basket, plus bokapnya ini pengusaha sukses, sekaligus saham terbesar di sekolah ini. sedangkan sesil, cewe manja, keturunan ningrat yang reportasinya bagus di sma ini.
Mereka pacaran udah 1 thun lebih, dan manda adalah sahabat terbaiknya sesil, ternyata diam diam roy dan manda ini saling suka. Mereka jadian di belakan sesil tanpa, sesil tau. Manda cinta amat sama roy, dia berani nglakuin hal hal konyol demi roy ini. Akibatnya manda pasrahin seluruh hidupnya buat roy.
Sason 2
2 bulan kemudian,...
Di kabarkan, manda meninggal gara gara gantung diri, gak ada yang tau penyebab kenapa manda gantung diri, tapi gue tau.
1 minggu kemudian, semuanya terungkap roy tidak benar benar cinta dan suka sama manda, tapi dia Cuma memanfaatkanya. Roy, boby, chandra adalah cowok nakal yang berani taruhan sampe jutaan demi buat naklukin cewe cewe di sekolahnya.
Daftar daftar berapa banyaknya cewe yang udah di taklukin sama mereka:
Chandra : Bandar paling besar di sma ini yang udah naklukin cewe sampe 20. Dan salah satunya, mereka taruhan 1 juta untuk bisa naklukin sesil
Boby : udah naklukin 18 cewe. Dan salah satuya caca 5 juta.
Roy : udah naklukin 16 cewe salah satunya manda 3 juta
Dan gue mulai berhati-hati terhadap 3 cowo nakal itu.
Film gue hentiin, gue syok setelah gue tau semuanya. Gue berfkir ini bukanlah film tapi suatu potret kebenaran.
Walau gue berhenti buat bawa handecame, tapi gue harus tau apa yang terjadi sama sekolahan gue ini. Sampai akhirnya roy tiba-tiba deketin gue, dan gue tahu itu kenapa? Mereka hargain gue paling mahal dari cewe-cewe lainnya yaitu 10 juta.
Gue ngajuin ke pengadilan, atas dasar pelecehan seksual. Mereka menanggapinya, alhasil semua syok apalagi keluarga roy, boby, chandra, juga sesil. Mereka menganggap mereka adalah baik, pintar, dan berwawasan luas, tentu mereka gak akan pernah melakukan hal sekeji ini, tapi apa daya semuanya memang palsu, mereka lebih keji dari seorang monyet.
Apa salah gue? Gue Cuma mengungkap kebenaran, apa gue salah? Gue Cuma mau mereka tau? GAK LEBIH!! Gue duduk di kursi tua, di sekiililingi benda tua gak berguna, kotor, bau, dan menjijikan, bahkan gelap. Gue merasa kalau gue sedang di skap oleh mereka. (keluarga dari mereka yang gue masukin ke penjara).
Dari kejauhan, walau gue gak yakin itu manusia, gue denger suara orang yang lagi nelfon, gue gak tau apa yang mereka omongin yang jelas, gue rasa itu orang jahat yang mau bunuh gue.
Suara sepatu yang mengerikan itu semakin dekat, dekat, dekat, dengan gue, gue gak bisa berbuat apa apa bahkan untuk mengganti posisi gue pun gak bisa, apa yang bisa gue lakuin dengan tangan kebelakan yang dikikat kuat, dan kaki gue pun gak punya energi, gue bener bener pasrah.
Gak pernah gue sangka, gak pernah gue bayangin, siapa orang yang sekarang nyekap gue, gue bener bener syok, gue hanya bisa diam dan nangis disini. dia orang satu satunya yang paling gue kagumi ALEKS.
Aleks : tutup mata kamu
Rara : buat apa?
Aleks : bunuh kamu
Rara : apa salah aku?
Aleks : yang, pasti aku gak tau apa salah kamu, aku hanya di suruh dan di bayar
Rara : kenapa?
Aleks : tutup mata kamu sekarang juga
(suara aleks makin keras buat bentak gue, dia coba buat gue takut, tapi gue gak pernah takut)
Rara : Sadarkah kamu, bahwa orang yang ada di depan kamu adalah orang yang dulu, pernah
bersamamu?? Yang dulu tulus mencintaimu, yang dulu pernah kamu beri cicin ini?
Aleks : Cinta ku tak pernah aku gabungkan dengan pekerjaanku, aku memang mencintaimu, tapi itu dulu.
sekarang aku lebih mencintai harta dan hidupku.
Rara : Baiklah, bunuh saja kapan kau mau, tapi aku ingin satu hal dari mu jika kamu ingin membunuhku
dengan menembaknya maka tembaklah di bagian hati ini, tapi jika kamu ingin membunuhku
dengan menusukkannya pisau maka tusuk lah di bagian hati ini. Dan jangan kamu beri aku racun
untuk membunuhnya, karena aku takut hatiku ini takan mati mencintaimu.
Aleks : Baiklah.
Gak tahan gue, liat aleks nangis di depan gue walau pistol itu tepat tertuju ke hati gue.
Tiba tiba aleks nurunin pistolnya, gue gak tau apa yang bakal dia lakuin.
Aleks bebasin gue !!!
Aleks : pergi,
Rara : kamu hanya mencintai harta dan hidup kamu
Aleks : harta aku itu, kamu!! Apa aku sanggup, nglakuin hal bodoh ini?? Gak aku gak sanggup
Rara : lalu, kamu gimana? Mereka pasti marah
Aleks : aku bisa lari
Tetes air mata basahi pipimu
di saat kita kan berpisah
terucapkan janji padamu kasihku
“takan ku lupakan dirimu”
begitu beratnya kau lepas diriku
sebut namaku jika kau rindukan aku
aku akan datang
munkingkah kita kan slalu bersama
walau terbentang jarak antara kita
biarkan ku peluk erat bayangmu
tuk melepaskan kerinduanku
Lambaian tanganmu iringi langkahku
Terbesit dalam hatiku
Akankah dirimu kan tetap inginku
saat kau kembali dipelukanku
Gue seneng semuanya berakhir sempurna, walau dengan ending “gue gak bias ketemu ALEKS lagi”
Semuanya brakhir, roy, boby, Chandra sekarang sedang menikmati masa masa mereka di penjara, dan sekarang sesil tau kenapa sahabat baiknya ini gantung diri.
Hidup yang membosankan gue, ulang kembali tanpa teman dan tawa. Slalu gue berfikir tentang rekaman itu, gue berkhayal ANDAI GUE DETEKTIV mungkinkah gue detektiv??
Kemudian,...
Rara : rara indra setianing dwi putri, di sini mau mengumumkan, rara mau jadi detektiv.
Mami : ra, jadi detektiv itu gak mudah loh, harus lari lari, kepanasan, kehujanan, belum lagi kan polusi
makin banyak, kamu yakin ra??
Rara : mami,.. rara ini bukan mau jadi watrawan, tapi jadi DETEKTIV ok!!
Papi : papi sih setuju setuju aja, asalkan kamu janji sama mami, sama papi kamu gak boleh manja, karena
jadi detektiv itu harus mandiri ok, sayang ??
Rara : )
Mulai, sekarang gue memutuskan buat jadi detektiv, dan mengganti kata gue jadi saya, lo jadi kamu..
5 tahun kemudian.......
Aleksa andrio di cari !!
Salah satu terorisme yang sekarang dikabarkan, teroris paling kejam, bahkan amerika serikat pun menghargai 100 dolar jika ada yang menemukannya.
Sudah tidak ada harapan lagi untukku, untuk menanti dia, apa yang slama ini aku perjuangkan sia sia begitu saja. Kini yang aku harus lakukan adalah melupakannya, meninggalkanya, dan memulai hidup baru sebagi MUSUH nya.
Walau hati ini tak sanggup, aku harus tetap menyelesaikanya, entah sampai kapan ini selesai aku sendiri tak tahu, selama ini aku mencari dan mengejar dia tiadalain ALEKS yang dulu pernah membebaskanku.
Mencintai seseorang, tidak lah mudah, bahkan untuk memercayainya itu pun butuh proses, tapi apa yang terjadi dengan mereka memang sulit untuk di bayangkan, rasa hormat mereka terhadap pekerjaan, tidak bisa menghalangi mereka untuk tetap bersatu, walau hingga akhirnya akan terungkap.

Gereja ini adalah sebuah janji untuk mereka bisa bersatu.
Aleks : tuhan saya kemari membawa teman hidup saya
Rarra : tuhan, apakah mungkin kami bisa bersatu??
Aleks : tuhan, saya ini pemberontak negara, sedangkan dia adalah pembela negara
Pendeta : tuhan tidak akan mungkin memisahkan umatnya yang saling mencintai, menyayangi, dan menghormati
Pernikahan, terjadi, tiadak satu pun orang mengetahuinya. Hanya pendeta, aleks, rara, dan tuhan yang tau. Bertahun tahun mereka hidup dalam kepalsuan, dan kebohongan. Mereka memang jenius untuk hal ini, tapi “ tuhan, tidak akan memisahkan umatnya yang saling mencintai, menyayangi, dan menghormati satu sama lain” bahkan hingga mereka tak bernafas lagi, meraka kan tetap bersama di dalam hati mereka yang saling mencintai.
Dan sesungguhnya cinta itu tidaklah mudah untuk bisa kita wujudkan, butuh pengorbanan di dalamnya. Dan cinta tak pernah memandang siapa, dari mana, mengapa, dan untuk apa mereka ingin bersatu. Karna cinta kita bisa.
Menurut gue, mau sma ke, mau smp ke, mau sd ke, bahkan tk pun, kalau kita mau merubah sikap kita menjadi lebih dewasa kapan aja bisa kok, gak perlu nunggu sma lagi kalee,..
Kenalin gue rara indra stianing dwi putri, muak gue dengan nama stianing dwi putri kaya nama ningrat gitu,.. emang sih gue keturunan ningrat.
Ciri-ciri gue:
Cantik (menurut gue)
Tinggi
Putih langsat
Rambut hitam, panjang sebahu
Gak minus
Bulu mata lentik
Gak sipit
Tapi, faktanya??
Jelek (kata temen temen)
tinggi
Kulit sawo mateng
Rambut lurus tak terawat
Mins 7
Bulu mata tebel
Sipit (kaya orang china)
Gue sma di 15 jakarta kata orang orang sih, itu sma paling mahal di jakarta. Selama di sma walupun gue keturunan ningrat, tapi gak ada tuh yang percaya. Malahan gue di samaain sama anaknya tukang sapu di jalanan. Keluarga gue emang gak banget kalo soal harta walaupun keluarga NINGRAT mereka tetep aja tuh, suruh anak satu satunya ini yang paling cantik naik angkot, bahkan ojeg. TEGA..!!
Kring,...
Tanda masuk..!!
Biasalah, anak ningrat suka telat, tapi khusus anak ningrat di bebaskan hukman
Satpam : kebiasaan telat lagi telat lagi,..
Rara : pak, namanya juga naik angkot ya lama pak!! Rara boleh masuk kan pak
Satpam : ah,.. gak bisa kamu kan bukan anak ningrat!!
Rara : pak, harus berapa kali lagi sih, rara bilang sama bapak rara ini juga keturunan ningrat pak, sama
kaya sesil, candra, boby,....
Satpam : gak gak,.. kamu ini sudah telat bohong lagi, sudah sana bersihkan semua sampah ini sampai bersih
Rarra : pak..!!
Hati gue : sesil, chandra, boby juga telat tuh, kok gak di hukum ya?? Ini gak adail!!
Sesil, boby, chandra : rajin nih, yang bersih ya??
Dari dulu gue slalu bermimpi buat jadi sutradara film, tapi yah?? Namanya juga anak ningrat, yang pastinya harus ngurusin perusahaan keluarga, kelak nanti.
Caca, satu satunya orang di sma 15 jakarta ini, yang percaya kalau gue keturunan NINGRAT. Caca cewe cantik, paling beken di sekolah, bahkan reportasinya ngalahin sesil, juga kapten chirleders, salah satu siswa berprestasi, baik dan,.. gak sombang itu, deketin gue
Caca : udah tau telat, masih aja rekam sana, rekam sini
Rara : ya truss,..??
Caca : ra, gue besok mau pindah, ke ausi.
Mampus gue, caca PINDAH?? Gue sama siapa? Siapa lagi yang percaya kalo gue keturunan ningrat? Siapa yang bantuin gue bikin pr? Siapa yang ngajak gue ke kantin? Siapa yang bisa di jadiin temen curhat gue, kalo dia gak ada?? Siapa??
Rara : pindah aja, (pura-pura gak khawatir, dalam hati MAMPUS) emang kenapa sih mau pindah?
Caca : gue, dapet basiswa ra, bokap kan udah gak ada, jadi gue gak mau nyia nyiain kesempatan ini
Rara : tapi, kan ada gue ca?
Caca : lo?? Bisa apa? Thanks ya buat slama ini, lo baik sama gue.
Gue ngambek, pergi deh gue
Setelah caca pergi ke ausi, gue mulai ngrasa sendiri, sepi!! Kaya kuburan,.. akibatnya kerjaan gue selama di sekolah ya rekam sana rekam sini. Dan gue mulai berniat buat bikin film lewat sma 15 jakarta ini.
Sason 1
Kisah cinta segi tiga antara roy, manda, dan sesil. Manda dan sesil ini temenan dari mereka tk. Roy dan sesil adalah pasangan paling mahal di sini, gimana gak?? Roy cowok keren, bego, juga kapten bolla basket, plus bokapnya ini pengusaha sukses, sekaligus saham terbesar di sekolah ini. sedangkan sesil, cewe manja, keturunan ningrat yang reportasinya bagus di sma ini.
Mereka pacaran udah 1 thun lebih, dan manda adalah sahabat terbaiknya sesil, ternyata diam diam roy dan manda ini saling suka. Mereka jadian di belakan sesil tanpa, sesil tau. Manda cinta amat sama roy, dia berani nglakuin hal hal konyol demi roy ini. Akibatnya manda pasrahin seluruh hidupnya buat roy.
Sason 2
2 bulan kemudian,...
Di kabarkan, manda meninggal gara gara gantung diri, gak ada yang tau penyebab kenapa manda gantung diri, tapi gue tau.
1 minggu kemudian, semuanya terungkap roy tidak benar benar cinta dan suka sama manda, tapi dia Cuma memanfaatkanya. Roy, boby, chandra adalah cowok nakal yang berani taruhan sampe jutaan demi buat naklukin cewe cewe di sekolahnya.
Daftar daftar berapa banyaknya cewe yang udah di taklukin sama mereka:
Chandra : Bandar paling besar di sma ini yang udah naklukin cewe sampe 20. Dan salah satunya, mereka taruhan 1 juta untuk bisa naklukin sesil
Boby : udah naklukin 18 cewe. Dan salah satuya caca 5 juta.
Roy : udah naklukin 16 cewe salah satunya manda 3 juta
Dan gue mulai berhati-hati terhadap 3 cowo nakal itu.
Film gue hentiin, gue syok setelah gue tau semuanya. Gue berfkir ini bukanlah film tapi suatu potret kebenaran.
Walau gue berhenti buat bawa handecame, tapi gue harus tau apa yang terjadi sama sekolahan gue ini. Sampai akhirnya roy tiba-tiba deketin gue, dan gue tahu itu kenapa? Mereka hargain gue paling mahal dari cewe-cewe lainnya yaitu 10 juta.
Gue ngajuin ke pengadilan, atas dasar pelecehan seksual. Mereka menanggapinya, alhasil semua syok apalagi keluarga roy, boby, chandra, juga sesil. Mereka menganggap mereka adalah baik, pintar, dan berwawasan luas, tentu mereka gak akan pernah melakukan hal sekeji ini, tapi apa daya semuanya memang palsu, mereka lebih keji dari seorang monyet.
Apa salah gue? Gue Cuma mengungkap kebenaran, apa gue salah? Gue Cuma mau mereka tau? GAK LEBIH!! Gue duduk di kursi tua, di sekiililingi benda tua gak berguna, kotor, bau, dan menjijikan, bahkan gelap. Gue merasa kalau gue sedang di skap oleh mereka. (keluarga dari mereka yang gue masukin ke penjara).
Dari kejauhan, walau gue gak yakin itu manusia, gue denger suara orang yang lagi nelfon, gue gak tau apa yang mereka omongin yang jelas, gue rasa itu orang jahat yang mau bunuh gue.
Suara sepatu yang mengerikan itu semakin dekat, dekat, dekat, dengan gue, gue gak bisa berbuat apa apa bahkan untuk mengganti posisi gue pun gak bisa, apa yang bisa gue lakuin dengan tangan kebelakan yang dikikat kuat, dan kaki gue pun gak punya energi, gue bener bener pasrah.
Gak pernah gue sangka, gak pernah gue bayangin, siapa orang yang sekarang nyekap gue, gue bener bener syok, gue hanya bisa diam dan nangis disini. dia orang satu satunya yang paling gue kagumi ALEKS.
Aleks : tutup mata kamu
Rara : buat apa?
Aleks : bunuh kamu
Rara : apa salah aku?
Aleks : yang, pasti aku gak tau apa salah kamu, aku hanya di suruh dan di bayar
Rara : kenapa?
Aleks : tutup mata kamu sekarang juga
(suara aleks makin keras buat bentak gue, dia coba buat gue takut, tapi gue gak pernah takut)
Rara : Sadarkah kamu, bahwa orang yang ada di depan kamu adalah orang yang dulu, pernah
bersamamu?? Yang dulu tulus mencintaimu, yang dulu pernah kamu beri cicin ini?
Aleks : Cinta ku tak pernah aku gabungkan dengan pekerjaanku, aku memang mencintaimu, tapi itu dulu.
sekarang aku lebih mencintai harta dan hidupku.
Rara : Baiklah, bunuh saja kapan kau mau, tapi aku ingin satu hal dari mu jika kamu ingin membunuhku
dengan menembaknya maka tembaklah di bagian hati ini, tapi jika kamu ingin membunuhku
dengan menusukkannya pisau maka tusuk lah di bagian hati ini. Dan jangan kamu beri aku racun
untuk membunuhnya, karena aku takut hatiku ini takan mati mencintaimu.
Aleks : Baiklah.
Gak tahan gue, liat aleks nangis di depan gue walau pistol itu tepat tertuju ke hati gue.
Tiba tiba aleks nurunin pistolnya, gue gak tau apa yang bakal dia lakuin.
Aleks bebasin gue !!!
Aleks : pergi,
Rara : kamu hanya mencintai harta dan hidup kamu
Aleks : harta aku itu, kamu!! Apa aku sanggup, nglakuin hal bodoh ini?? Gak aku gak sanggup
Rara : lalu, kamu gimana? Mereka pasti marah
Aleks : aku bisa lari
Tetes air mata basahi pipimu
di saat kita kan berpisah
terucapkan janji padamu kasihku
“takan ku lupakan dirimu”
begitu beratnya kau lepas diriku
sebut namaku jika kau rindukan aku
aku akan datang
munkingkah kita kan slalu bersama
walau terbentang jarak antara kita
biarkan ku peluk erat bayangmu
tuk melepaskan kerinduanku
Lambaian tanganmu iringi langkahku
Terbesit dalam hatiku
Akankah dirimu kan tetap inginku
saat kau kembali dipelukanku
Gue seneng semuanya berakhir sempurna, walau dengan ending “gue gak bias ketemu ALEKS lagi”
Semuanya brakhir, roy, boby, Chandra sekarang sedang menikmati masa masa mereka di penjara, dan sekarang sesil tau kenapa sahabat baiknya ini gantung diri.
Hidup yang membosankan gue, ulang kembali tanpa teman dan tawa. Slalu gue berfikir tentang rekaman itu, gue berkhayal ANDAI GUE DETEKTIV mungkinkah gue detektiv??
Kemudian,...
Rara : rara indra setianing dwi putri, di sini mau mengumumkan, rara mau jadi detektiv.
Mami : ra, jadi detektiv itu gak mudah loh, harus lari lari, kepanasan, kehujanan, belum lagi kan polusi
makin banyak, kamu yakin ra??
Rara : mami,.. rara ini bukan mau jadi watrawan, tapi jadi DETEKTIV ok!!
Papi : papi sih setuju setuju aja, asalkan kamu janji sama mami, sama papi kamu gak boleh manja, karena
jadi detektiv itu harus mandiri ok, sayang ??
Rara : )
Mulai, sekarang gue memutuskan buat jadi detektiv, dan mengganti kata gue jadi saya, lo jadi kamu..
5 tahun kemudian.......
Aleksa andrio di cari !!
Salah satu terorisme yang sekarang dikabarkan, teroris paling kejam, bahkan amerika serikat pun menghargai 100 dolar jika ada yang menemukannya.
Sudah tidak ada harapan lagi untukku, untuk menanti dia, apa yang slama ini aku perjuangkan sia sia begitu saja. Kini yang aku harus lakukan adalah melupakannya, meninggalkanya, dan memulai hidup baru sebagi MUSUH nya.
Walau hati ini tak sanggup, aku harus tetap menyelesaikanya, entah sampai kapan ini selesai aku sendiri tak tahu, selama ini aku mencari dan mengejar dia tiadalain ALEKS yang dulu pernah membebaskanku.
Mencintai seseorang, tidak lah mudah, bahkan untuk memercayainya itu pun butuh proses, tapi apa yang terjadi dengan mereka memang sulit untuk di bayangkan, rasa hormat mereka terhadap pekerjaan, tidak bisa menghalangi mereka untuk tetap bersatu, walau hingga akhirnya akan terungkap.

Gereja ini adalah sebuah janji untuk mereka bisa bersatu.
Aleks : tuhan saya kemari membawa teman hidup saya
Rarra : tuhan, apakah mungkin kami bisa bersatu??
Aleks : tuhan, saya ini pemberontak negara, sedangkan dia adalah pembela negara
Pendeta : tuhan tidak akan mungkin memisahkan umatnya yang saling mencintai, menyayangi, dan menghormati
Pernikahan, terjadi, tiadak satu pun orang mengetahuinya. Hanya pendeta, aleks, rara, dan tuhan yang tau. Bertahun tahun mereka hidup dalam kepalsuan, dan kebohongan. Mereka memang jenius untuk hal ini, tapi “ tuhan, tidak akan memisahkan umatnya yang saling mencintai, menyayangi, dan menghormati satu sama lain” bahkan hingga mereka tak bernafas lagi, meraka kan tetap bersama di dalam hati mereka yang saling mencintai.
Dan sesungguhnya cinta itu tidaklah mudah untuk bisa kita wujudkan, butuh pengorbanan di dalamnya. Dan cinta tak pernah memandang siapa, dari mana, mengapa, dan untuk apa mereka ingin bersatu. Karna cinta kita bisa.
Jumat, 10 Februari 2012
cerpen "GAUN PUTIH DARI BOBI"
GAUN PUTIH DARI BOBI
Diam dalam sepi. Hanya ada aku dan dia. Disini membisu dalam seribu bahasa. Tak terucap sedikitpun kata. Ingin rasanya aku memulai. Tapi tak mungkin, diri ini haya seorang wanita. Harusnya kau tahu apa yang akan kau lakukan, wahai pria keluarkanlah nyalimu, aku hanya ingin mendengar suaramu.
“aku rasa sampai disini” ucap awal critanya.
“maksudmu?”
“hubungan kita berakhir?” bobi berdiri dari kursi ini, dia mencoba untuk beranjak pergi
“kenapa” tanganku yang menolaknya dia pergi
Ku tatap dua bola matamu
Tersirat apa yang kan terjadi
Kau ingin pergi dariku
Meninggalkan semua kenangan menutup lembar cerita
Oh, sayangku aku tak mau
Ku tahu semua akan berakhir
Tapi ku tak rela lepaskanmu
Kau Tanya mengapa aku tak ingin pergi darimu
Dan mulutku diam membisu
Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu
Jangan tanyakan mengapa karena ku tak tahu
Akupun tak ingin bila kau pergi tinggalkan aku
Masihkah ada hasratmu tuk mencintaiku lagi
Dia tak pernah peduli lagi, semenjak ia kuliah di singapur. Aku hanya ingin hubungan kita tak berujung pada masalah. Kenapa dia berubah?? Dalam fikirku mungkin ada wanita lain yang ia sukai di singapur sana. Pandanganku tak beralih pada sosok pria yang baru saja meninggalkan ku pergi tanpa tahu bagaimana perasaanku sekarang.
***
“hai, sya kemana aja lo, satu bulan. Gila ya lo, pak alan nyariin tuh,..” sapa rina dengan pukulan kecil di punggungku.
“ke ARAB..” jawabku jutek, rina tak tahu yang sebenarnya kalau aku dan bobi sudah berakhir.
“ngapain,.??” Tanyanya penasaran.
“udah ah, gue mau ada urusan..” aku pergi meninggalkan rina.
Setelah putus dengan bobi, hidupku rusak. Sering bolos kuliah, jarang makan, bahkan tak pulang ke rumah 2 hari. Semuanya hilang terbawa oleh ambang-ambang fikiranku tentang “mengapa bobi meninggalkanku??”. Berbagai informasi sudah aku cari tentang dia tinggal di mana saat kuliahnya di singapur, kuliah di universitas mana, dan dengan siapa dia di sana. Tapi semuanya belum pasti, karena aku belum pernah melihatnya dengan kedua mataku.
**
Semenjak perpisahan itu, sedikit demi sedikit aku mulai membukaan pintu hatiku untuk pria lain. Dan membuang semua masa lalu tentang aku dan dia. Yudha adalah kekasih baruku yang sudah 2 bulan ini bisa membuatku lebih tenang dan menghilangkan rasaku jauh jauh terhadap bobi.
Entah mengapa, hari ini aku ingin pergi ke toko boneka yang dulu pernah bobi berikan boneka singa mungil coklat itu. Aku disini bersama yudha. Toko ini menjadi sepi setelah perpisahan itu, karena satu satunya pelanggan tetap yang suka membuat keributan di toko ini hanyalah aku dan bobi. Ku telusuri lorong lorong toko boneka itu satu persatu, melihat dengan sedetail detailnya tentang kenangan kenangan masa lalu. Sudah tiga lorong yang aku lewati disini, bermaksud bobi ada di sini. Lorong berikutnya di sana ada 2 sepasang kekasih yang sedang bercanda gurau persis bersama boneka yang dulu pernah bobi berikan padaku.
Di sini hanya ada kami ber3 aku, dan sepasang kekasih itu. Perlahan lahan aku melangkah tapi pasti menuju tepat pada boneka singa itu dan sepasang kekasih itu.
Tahukan kamu, hati ku berdetak cepat. Hampir saja jantung ini serasa copot, dan tubuh ini tidak kuat untuk menompang beban yang begitu berat. Sepasang kekasih itu bobi dan wanita di sampingnya. Mata ini tak pernah berkedip sedikitpun, bahkan bola mataku tak melirik kearah yang lain selain bobi, dan boneka itu.
“shasha,..” dia menatapku, sama hal saat ia menatapku untuk yang terakhir kalinya.
Yudha yang saat itu melihatnya heran, apa yang sebenarnya terjadi?? Tentang aku dan bobi. Ku raih tangan yudha dan menggenggamnya kuat kuat dan pergi meninggalkan mereka yang mungkin juga akan bingung akan hal itu.
***
6 bulan lamanya,…
“slamat siang mba, dengan mba shasaha?”
“iya, saya sendiri ada apa ya?”
“ini ada kiriman, tolong tanda tangani di sini”
**
Ku buka apa isi dari paket itu yang bertuliskan “untuk shasha” tiba tiba
Ada satu pesan singkat dari bobi
Besok, aku akan pulang ke Indonesia. Aku mau kamu datang ke rumah aku, dengan gaun putih yang pernah aku berikan untuk kamu. Jadilah yang tercantik di sana. Aku menunggumu.
Keesokan harinya,…
Tak terlihat tanda-tanda bobi di sini, hanya ada keluarga dan beberapa kerabatnya yang datang dengan baju hitam-hitam. Hanya aku di sini yang memakai baju berwarna putih. Semua orang melihat penampilanku, yang mungkin agak sedikit aneh, karena di antara mereka hanya akulah yang berdandan laksana putri raja. Sedangkan mereka hanya memakai baju biasa, tanpa olesan mek-up di wajahnya.
Dalam benakku apa yang terjadi?? Tak ada yang mau memberi tahu, tentang apa yang terjadi di sini. Ini hanyalah penyambutan bobi datang kembali, bukan acara perpisahan yang mengharukan. Di sudut sana ku lihat perempuan yang pernah aku temui di toko boneka bersama bobi 3 bulan yang lalu.
Hampir 2 jam lamanya, aku menunggu kehadiran bobi, tapi tak pernah ada yang berhenti mengangis. Aku keluar untuk mencari udara segar di sini, kemudian terdengara suara mobil ambulance dengan di sertai bendera kuning. Kembali hatiku bertanya, apa yang terjadi dengan bobi??. Hpku bergetar, kulihat ada satu panggilan tak terjawab, kemudian bobi tiba-tiba saja menelfonku.
“hallo, bobi kamu ada di mana??”
“maaf, aku harus pergi. AKU SAYANG KAMU sya,..” tak sempat aku menjawab telfon dari bobi, tiba-tiba saja telfon itu mati.
Semakin banyak disini orang yang menangis, dan tiba tiba saja dengan kehadirannya ambulance itu hatiku begitu dekat dengan bobi. Ada seseorang yang terbaring di sana. Tak ada yang pernah membuka tutup kain itu dari wajahnya. Hanya duduk diam dan menangis.
Sekarang, semakin penasarannya hatiku, apa yang terjadi?? Apakah bobi baik baik saja??. Tante ratna memandangku lekat lekat, seperti ada yang ia ingin katakan padaku. Dia menghampiriku. Kini semakin jelas apa yang terjadi?? Ku lihat mata tante ratna memerah bengkak, persis seperti orang yang menangis semalam.
“sya,... apa kabar??” tanyanya, dengan senyuman yang mungkin akan sedikit memaksakan, karena aku tahu dia baru saja menangis.
“baik tante, mm bobinya mana ya? Tante??” jawabku penasaran
“duduk yu,.. di sana” tante menunjukan arah ke tempat kursi kasik itu.
“dia sakit, hanya 6 bulan yang tersisa. Tante mau mengucapkan trimakasih sama kamu, dia bisa bertahan demi kamu selama 2 tahun terakhir ini. Mungkin tuhan berkehendak lain, sehingga bobi menyuruh tante untuk cepat pulang ke indonesia, dan bertemu kamu disini.” Sekarang aku tahu, apa maksud dari semua ini. Orang yang terbaring di sana adalah bobi..!! lalu, yang baru saja menelfon itu siapa?
Tak aku hirauakan orang-orang di sekelilingku, yang mencoba untuk menahan air mata ini. Aku berjalan bersama perasaan takut yang dari dulu kurasaakan, orang yang sangat aku sayang itu meninggalkan ku tanpa aku tahu. Kini hanyalah aku yang berani membuka tutup kain itu, yang mengenai wajah pucatnya. Ingin aku bertanya tentang satu hal padanya “bobi, apakah kau masih mencintaiku??” jika ia akan menjawab “tidak” tapi aku akan menyangkalanya dengan kata “iya”. Dengan perlahan, ku sandarkan bibirku di kening bobi. Dan berkata:
“bobi, kenapa kamu bohong sama aku, kenapa kamu tinggalin aku, bobi harusnya aku tahu kamu sakit. Kenapa kamu biarin aku kaya gini?? Bobi makasih ya, gaun putih ini akan aku simpan baik baik, tapi kamu juga harus janji sama aku kamu juga harus baik baik di sana, aku janji suatu saat nanti aku akan nyusul kamu, dan kita akan kaya dulu lagi. AKU SAYANG KAMU BOB,”
SELESAI...
By. Anggie wulan r
Diam dalam sepi. Hanya ada aku dan dia. Disini membisu dalam seribu bahasa. Tak terucap sedikitpun kata. Ingin rasanya aku memulai. Tapi tak mungkin, diri ini haya seorang wanita. Harusnya kau tahu apa yang akan kau lakukan, wahai pria keluarkanlah nyalimu, aku hanya ingin mendengar suaramu.
“aku rasa sampai disini” ucap awal critanya.
“maksudmu?”
“hubungan kita berakhir?” bobi berdiri dari kursi ini, dia mencoba untuk beranjak pergi
“kenapa” tanganku yang menolaknya dia pergi
Ku tatap dua bola matamu
Tersirat apa yang kan terjadi
Kau ingin pergi dariku
Meninggalkan semua kenangan menutup lembar cerita
Oh, sayangku aku tak mau
Ku tahu semua akan berakhir
Tapi ku tak rela lepaskanmu
Kau Tanya mengapa aku tak ingin pergi darimu
Dan mulutku diam membisu
Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu
Jangan tanyakan mengapa karena ku tak tahu
Akupun tak ingin bila kau pergi tinggalkan aku
Masihkah ada hasratmu tuk mencintaiku lagi
Dia tak pernah peduli lagi, semenjak ia kuliah di singapur. Aku hanya ingin hubungan kita tak berujung pada masalah. Kenapa dia berubah?? Dalam fikirku mungkin ada wanita lain yang ia sukai di singapur sana. Pandanganku tak beralih pada sosok pria yang baru saja meninggalkan ku pergi tanpa tahu bagaimana perasaanku sekarang.
***
“hai, sya kemana aja lo, satu bulan. Gila ya lo, pak alan nyariin tuh,..” sapa rina dengan pukulan kecil di punggungku.
“ke ARAB..” jawabku jutek, rina tak tahu yang sebenarnya kalau aku dan bobi sudah berakhir.
“ngapain,.??” Tanyanya penasaran.
“udah ah, gue mau ada urusan..” aku pergi meninggalkan rina.
Setelah putus dengan bobi, hidupku rusak. Sering bolos kuliah, jarang makan, bahkan tak pulang ke rumah 2 hari. Semuanya hilang terbawa oleh ambang-ambang fikiranku tentang “mengapa bobi meninggalkanku??”. Berbagai informasi sudah aku cari tentang dia tinggal di mana saat kuliahnya di singapur, kuliah di universitas mana, dan dengan siapa dia di sana. Tapi semuanya belum pasti, karena aku belum pernah melihatnya dengan kedua mataku.
**
Semenjak perpisahan itu, sedikit demi sedikit aku mulai membukaan pintu hatiku untuk pria lain. Dan membuang semua masa lalu tentang aku dan dia. Yudha adalah kekasih baruku yang sudah 2 bulan ini bisa membuatku lebih tenang dan menghilangkan rasaku jauh jauh terhadap bobi.
Entah mengapa, hari ini aku ingin pergi ke toko boneka yang dulu pernah bobi berikan boneka singa mungil coklat itu. Aku disini bersama yudha. Toko ini menjadi sepi setelah perpisahan itu, karena satu satunya pelanggan tetap yang suka membuat keributan di toko ini hanyalah aku dan bobi. Ku telusuri lorong lorong toko boneka itu satu persatu, melihat dengan sedetail detailnya tentang kenangan kenangan masa lalu. Sudah tiga lorong yang aku lewati disini, bermaksud bobi ada di sini. Lorong berikutnya di sana ada 2 sepasang kekasih yang sedang bercanda gurau persis bersama boneka yang dulu pernah bobi berikan padaku.
Di sini hanya ada kami ber3 aku, dan sepasang kekasih itu. Perlahan lahan aku melangkah tapi pasti menuju tepat pada boneka singa itu dan sepasang kekasih itu.
Tahukan kamu, hati ku berdetak cepat. Hampir saja jantung ini serasa copot, dan tubuh ini tidak kuat untuk menompang beban yang begitu berat. Sepasang kekasih itu bobi dan wanita di sampingnya. Mata ini tak pernah berkedip sedikitpun, bahkan bola mataku tak melirik kearah yang lain selain bobi, dan boneka itu.
“shasha,..” dia menatapku, sama hal saat ia menatapku untuk yang terakhir kalinya.
Yudha yang saat itu melihatnya heran, apa yang sebenarnya terjadi?? Tentang aku dan bobi. Ku raih tangan yudha dan menggenggamnya kuat kuat dan pergi meninggalkan mereka yang mungkin juga akan bingung akan hal itu.
***
6 bulan lamanya,…
“slamat siang mba, dengan mba shasaha?”
“iya, saya sendiri ada apa ya?”
“ini ada kiriman, tolong tanda tangani di sini”
**
Ku buka apa isi dari paket itu yang bertuliskan “untuk shasha” tiba tiba
Ada satu pesan singkat dari bobi
Besok, aku akan pulang ke Indonesia. Aku mau kamu datang ke rumah aku, dengan gaun putih yang pernah aku berikan untuk kamu. Jadilah yang tercantik di sana. Aku menunggumu.
Keesokan harinya,…
Tak terlihat tanda-tanda bobi di sini, hanya ada keluarga dan beberapa kerabatnya yang datang dengan baju hitam-hitam. Hanya aku di sini yang memakai baju berwarna putih. Semua orang melihat penampilanku, yang mungkin agak sedikit aneh, karena di antara mereka hanya akulah yang berdandan laksana putri raja. Sedangkan mereka hanya memakai baju biasa, tanpa olesan mek-up di wajahnya.
Dalam benakku apa yang terjadi?? Tak ada yang mau memberi tahu, tentang apa yang terjadi di sini. Ini hanyalah penyambutan bobi datang kembali, bukan acara perpisahan yang mengharukan. Di sudut sana ku lihat perempuan yang pernah aku temui di toko boneka bersama bobi 3 bulan yang lalu.
Hampir 2 jam lamanya, aku menunggu kehadiran bobi, tapi tak pernah ada yang berhenti mengangis. Aku keluar untuk mencari udara segar di sini, kemudian terdengara suara mobil ambulance dengan di sertai bendera kuning. Kembali hatiku bertanya, apa yang terjadi dengan bobi??. Hpku bergetar, kulihat ada satu panggilan tak terjawab, kemudian bobi tiba-tiba saja menelfonku.
“hallo, bobi kamu ada di mana??”
“maaf, aku harus pergi. AKU SAYANG KAMU sya,..” tak sempat aku menjawab telfon dari bobi, tiba-tiba saja telfon itu mati.
Semakin banyak disini orang yang menangis, dan tiba tiba saja dengan kehadirannya ambulance itu hatiku begitu dekat dengan bobi. Ada seseorang yang terbaring di sana. Tak ada yang pernah membuka tutup kain itu dari wajahnya. Hanya duduk diam dan menangis.
Sekarang, semakin penasarannya hatiku, apa yang terjadi?? Apakah bobi baik baik saja??. Tante ratna memandangku lekat lekat, seperti ada yang ia ingin katakan padaku. Dia menghampiriku. Kini semakin jelas apa yang terjadi?? Ku lihat mata tante ratna memerah bengkak, persis seperti orang yang menangis semalam.
“sya,... apa kabar??” tanyanya, dengan senyuman yang mungkin akan sedikit memaksakan, karena aku tahu dia baru saja menangis.
“baik tante, mm bobinya mana ya? Tante??” jawabku penasaran
“duduk yu,.. di sana” tante menunjukan arah ke tempat kursi kasik itu.
“dia sakit, hanya 6 bulan yang tersisa. Tante mau mengucapkan trimakasih sama kamu, dia bisa bertahan demi kamu selama 2 tahun terakhir ini. Mungkin tuhan berkehendak lain, sehingga bobi menyuruh tante untuk cepat pulang ke indonesia, dan bertemu kamu disini.” Sekarang aku tahu, apa maksud dari semua ini. Orang yang terbaring di sana adalah bobi..!! lalu, yang baru saja menelfon itu siapa?
Tak aku hirauakan orang-orang di sekelilingku, yang mencoba untuk menahan air mata ini. Aku berjalan bersama perasaan takut yang dari dulu kurasaakan, orang yang sangat aku sayang itu meninggalkan ku tanpa aku tahu. Kini hanyalah aku yang berani membuka tutup kain itu, yang mengenai wajah pucatnya. Ingin aku bertanya tentang satu hal padanya “bobi, apakah kau masih mencintaiku??” jika ia akan menjawab “tidak” tapi aku akan menyangkalanya dengan kata “iya”. Dengan perlahan, ku sandarkan bibirku di kening bobi. Dan berkata:
“bobi, kenapa kamu bohong sama aku, kenapa kamu tinggalin aku, bobi harusnya aku tahu kamu sakit. Kenapa kamu biarin aku kaya gini?? Bobi makasih ya, gaun putih ini akan aku simpan baik baik, tapi kamu juga harus janji sama aku kamu juga harus baik baik di sana, aku janji suatu saat nanti aku akan nyusul kamu, dan kita akan kaya dulu lagi. AKU SAYANG KAMU BOB,”
SELESAI...
By. Anggie wulan r
Langganan:
Postingan (Atom)