Senin, 14 November 2011

cerpen :)

Walau kamu cinta pertamaku, tapi aku bukan untukmu

“mencintaimu adalah kebahagiaan dalam hidupku,”
“aku tahu dimas, tapi aku rasa cukup sampai di sini, kamu harus mencari pengganti yang mungkin akan lebih baik dari ku”
“itu hanya sebuah kemungkinan”
Percakapan itu terhenti dimas menatap mataku dalam dalam. Ingin aku berpaling dari tatapan mata itu. Tapi tak bisa. Aku memang benar masih mencintainya. Tapi dalam diri ini terus berkata dialah memang bukan untukku.
***
Setiap hari, walau aku sudah melupakan percakapan antara aku dan dimas, tapi tetap masih ada bayang bayangan memoria itu, saat saat aku bersamanya. Mulut yang semuala lancar mengatakan sesuatu begitu saja kaku, saat harus mengatakan “dimas, aku merinduknmu” hati pun goyah, rasa sakit itu masih ada, mengingat kenapa aku harus melupakan dan meninggalkan dimas?
Kata dimas masih ada dalam memoriku. Walau sudah ku hapus dari otakku, tetap masih saja tersimpan. Mungkin karena memang aku benar masih menginginkanya.
Hanya tinggal aku seorang di kantor yang mewah ini. Aku bekerja di salah satu perusahaan asing di Jakarta. Aku memilih pergi setelah kejaadian itu. Meninggalkan kota bandung kelahiranku. Tanpa aku sadar yang aku ketik di sebuah computer hanya satu kata, dan satu nama “DIMAS”. “Oh tuhan,.. aku lelah sedari tadi aku berada di sini hanya menulis kata dimas”.Ku lirik makalah yang terbengkalai begitu saja, mungkin aku tak menyentuhnya sedikit pun.
Pikiranku saat itu kacau. Ingin rasanya aku teriak sekencang kencangya, dan menangis di pelukan dimas. Nama itu kembali terucap dalam benakku.” Aku benci kenapa harus dimas, yang aku cinta?”.
***
Satu tahun lamanya, aku menyendiri tanpa seorang kekasih di sampingku, entah apa yang terjadi dalam hidupku. Tubuh ini terus menolak jika harus bersama kembali untuknya, tapi jauh dalam hati ini juga merindukannya.
***
“sudah satu tahun, semenjak kamu berpisah dengan dimas, kamu juga belum mendapatkan pendamping hidupmu ra,?? Kapan kamu nikah? Ibu, sudah cape menasihati kamu.” Curhatan ibu, yang perlahan lahan itu mulai masuk ke telingaku.
“bu, rara butuh waktu?” mohonku padanya
“sampai kapan na?? ibu sudah cape, kepingin lihat kamu menikah nanti, bagaimana jika kamu menikah nanti, ibu sudah tiada?” curahan hati ibu, kembali mengejutkan ku.
Oh,.. tuhan aku harus mengatakan apa pada ibuku,.. mungkin saja raga ini menikah dengan lelaki pilihan ibu, tapi hati ini TIDAK.
Tidak ada sedikitpun kata yang terucap dari bibirku. Hanya air mata yang keluar menembus pori pori kecilku. Walau hati ini sudah ingin tidak lagi tersenyum aku paksa dia untuk tersenyum.
“ibu, mengerti mungkin lain waktu kamu bisa bertemu dengan jodoh kamu yang lain”. Kata terakhir itu, membuat aku lebih bisa untuk bertahan.
Yang lalu biarlah berlalu, waktu terus saja berjalan tanpa ingat arah dan tujuan. Hari pun berganti. Begitupun dengan bulan dan matahari yang menyinari siang dan malam kian berganti. Tapi hati ini tetap tidak berpaling kelain hati. Bagaiman bisa aku melupakan semua yang terjadi. Sedang hati ini telah mengetahui. Bagimana maksud hati. Yang telah terbohongi.
Siraman hangat itu mulai memasuki kerangka tulangku. Memberi tahu. Tentang pagi ini sudah tidak lagi kelabu. Menyuruhku bangun dari tempat yang empuk ini kemudian berlalu. Enggan aku. Pergi dari tempat yang nyaman itu. Ku tarik slimut yang terus melaju. Akibat di seret ibu.
Tertulis nama dimas di ponsel ku. Ada satu pesan dan dua panggilan tidak terjawab darinya. Ku lihat isi dari pesan dimas
Rara, bisa kita ketemu sebentar saja. Aku mau bicara, aku tunggu kamu di tempat pertama kita bertemu. Dimas
Dimas?? Untuk apa?? Bukankah, semuanya sudah berakhir? Aku bukan miliknya lagi. Dimas orang yang telah aku sakiti, itu datang kembali.
***
Tak ada tanda tanda dimas di sana. Hanya bentangan air, dan pohon pohon saja. Ku cari dimana dimas berada. Sudah lama aku di sini. Hampir satu jam lamanya. Lelah, jika aku harus mencarinya lagi. Hingga mungkin aku putuskan. Dia tak akan datang kemari. Kecewa, dalam benak ku “sekali saja aku mendengar suaranya mungkin aku akan tenang”. Tiba tiba saja pandangan ku hitam, seperti tertutup awan tebal tak bisa melihat walau hanya sesaat. Mataku mulai sakit, saat tangan itu mulai menekan kelopak mataku hingga aku tak dapat melihat. Hingga saat itu juga aku merasakan dimas datang. Kemudian, secara perlahan tangan itu mulai pergi dari mata ku.
Baru kali ini ku lihat dimas ceria. Tak pernah ia tertawa sebahagia ini. Aku senang melihatnya. Walau hati ini tertahan ingin menangis di peluknya. Aku merindukanya.
“dimas, ini sama sekali gak lucu tau” centilku padanya
“ok, ok, sorry cantik,”
“dimas, mau kamu apa?
“kamu??”
Tatapan dimas, mulai menghancurkan keseimbanganku. Tanpa berkedip, di buatnya aku gila. Hening, lama aku menunggu dimas kembali bersuara. Lelah jika aku harus menunggunya.
“dimas, nama ayah kita sama” pelan suaraku, mengucapkan kata kata itu
“iya, ra aku tahu itu dari dulu” jawab dimas cuek
“dimas, tanggal lahir ayah kita sama” ku perjelas maksud dari percakapanku
“wah,.. kebetulan banget dong ra,.. kita memiliki persamaan” dimas, yang terlihat benar benar tidak peduli akan apa maksud dari ucapanku.
“dimas, bukankah ibu kita juga bersahabat sudah lama?”ku, minta dimas berfikir tentang apa yang ingin aku sampaikan
“iya, kamu tau kan ibu kita itu tak terpisahkan, seperti sandal jepit” tetap, dimas tak peduli, bahkan kali ini ia membuat lelucon
“dimas, ibu kita menikah di tanggal, bulan, dan tahun yang sama”kata ini adalah awal dari sebuah konflik
Dimas menatap wajah rara yang penuh dengan air mata itu, lalu dimas berfikir apa maksud rara?
“dimas, mereka juga pernah mencintai pria yang sama,pernah kamu berfikir, kenapa foto keluarga kita slalu ada aku, kamu, ayah, dan dua orang ibu??” perlahan lahan air mata itu jatuh ke pangkuanku, dengan senada emosi aku ucapkan kata ceritaku
“itu, gak mungkin terjadi, satu keluarga hanya ada anak, satu orang ayah, dan satu orang ibu, kamu bercanda kan ra?”
“buat apa aku membuat lelucon konyol ini, sementara kamu, lihat apa arti dari tangisan ini dimas,.?? Emosi ku tak terkontrol lagi, ingin aku berteriak untuk menjelaskan semuanya, tapi raga ini menolak untuk mengeluarkan energy yang begitu besar,.. hanya tetesan air mata ini yang bisa meredakan emosiku.
Tak ada satu katapun, terucap dari bibir dimas, ia pergi dan berlalu begitu saja. Tanpa pamit atau mengajakku pergi dari tempat ini. Kembali di sini ku sendiri dalam renungan tangisku yang menjadi. Mengingat mungkin dimas juga akan merasakan sakit hati yang sama saat aku mengetahuinya.
***
Semuanya telah usai, cerita ini akan berakhir. Kini kulihat mereka tersenyum kembali dalam canda dan tawa. Aku sendiri di sini menggu jodoh itu datang dengan sendiri. Dimas telah memilih maya sahabat terbaikku.
“andai ini tidak terjadi, aku rela berbagi dimas denganmu ra?”
“maya, dimas itu kakaku? Jadi, aku tak mungkin bisa menikah denganya. Berbahagialah kamu dengan kakakku” mohon ku pada maya.
Mungkin, saat ini aku bisa menguasai emosiku, tapi jika ijab kabul itu terjadi mungkinkah aku bisa bertahan dengan senyum manis ku?. Mencoba tuk bertahan. Membantu mereka seperti pahlawan. Berlari kesana kemari membawa hidangan. Untuk persiapan pernikahan dimas dan maya tersayang.
Tak henti aku melihatnya. Dengan wajah gembira. Ku coba tuk rela. Melepaskan dia tuk bersamanya. Walau hati ini menolaknya. Dimas datang menghampiriku.
“kamu, gak papa kan ra?”
“aku tidak papa, jangan khawatirkan aku, jika kamu takut aku terluka, lindungi saja aku kak??” Kata KAKAK itu, yang telah menggantikan kata dimas di hatiku.
Tak kuasa ingin, aku menangis dan berlari dari tempat ini. Takan aku biarkan air mata ini merusak meka up ku. ku biarkan hati ini akan tetap merasakan sakitnya ketimbang aku harus meneteskan air mata ini. Maya telah resmi menjadi pendamping hidup dimas
Dulu kita bersama
Dulu kita sekata
Tapi sekarang tak sama
Karena semua semua tlah berbeda
Ku biarkan kau pergi
Ku biarkan kau lari
Demi cinta kita abadi
Walau sakit di hati
***
Berakhir sudah, biarkan hati ini akan tetap menyimpan nama itu. Takan aku hapus lagi seperti dulu, biar saja membeku. Dalam hati ku yang rapuh. Kini lengkap sudah semuanya. Biar saja mereka tersenyum lebih lama. Kini, ibuku ibu dimas juga, ibu dimas ibuku juga.
Hari ini, aku berkunjung ke rumah dimas, rumah ini tak lagi asing bagiku, karena rumah ini sudah menjadi rumah kedua bagiku. Tak seperti biasanya pintu kamar dimas terbuka, lancangnya aku mesuk ke kamara orang tanpa pamit. Ku lihat di sekeliling kamar dimas, yang tentunya berantakan dan bau. Tapi untunglah hari ini dimas sedang keluar jadi, dia gak tau kalau, aku masuk kamarnya tanpa seijin darinya. Lagi lagi aku harus menutup hidungku rapat rapat karena kamar ini benar benar bau. Pandanganku, beralih kelain, di atas meja itu ada album foto. Iseng ku lihat.
Hati ku bertanya, ‘’mungkinkah dia masih mencintaiku?” sedang dia sudah menikah dengannya. Tapi, kenapa foto itu terpampang jelas di depanku?. Lamunanku seketika buyar, saat ibu itu menghampiriku.
“kamu bingung?” Tanya ibu dimas kepadaku, yang sedari tadi benggong melihat foto itu.
“tante, itu foto siapa?” tanyaku
“foto, kamu sama dimas sayang,” jawabnya
Ternyata dugaanku benar, tak kuasa aku menahan air mata. Tanpa pamit aku keluar dan lari begitu saja. Hatiku begitu sakit setelah tau dia masih mengenang kenangan itu. Hati ini sakit, karena diriku merasa bersalah padanya, membiarkan dia pergi dan lari untuk memulai hidup baru, sedang hati ini mungkin tlah tersakiti .
Selesai
By. Anggie wulan r