Ketika semua orang tahu tentang kita, sebagian mereka
meliriku, menatap dalam dan menyelidik. Kau tahu, hanya rasa menyesal yang ada
setelah semuanya berlalau. Bukan bukan karena aku menginginkan kamu untuk
kembali, hanya saja aku hanya menginginkan kamu masih mau menerimaku,
mengenalku, sama seperti dulu. Andai waktu tidak begitu cepat saat itu, mungkin
aku akan berfikir dulu sebelum aku mengucapkan kata itu, atau andai saja jika
waktu bisa kita jeda lalu kembali keawal dan semua berlalu tanpa aku
mengucapkan kata itu. Miris memang mengingat ini, aku hanya bisa menyesal tanpa
berbuat. Sadarlah, aku ini siapa kamu? untuk apa aku berbuat? Untuk apa aku
mengingatkanmu tentang ku, tentang ‘kita’ aku bukanlah aku yang dulu begitupun
kamu, kamu telah berubah menjadi seseorang yang lebih berarti bahkan sekarang
pun sudah ada yang mampu menyayangimu dengan tulus, selamat aku bahagia untuk
itu. Lalu? Kenapa ada air mata disini? Jika aku bahagia. Kamu, apakah kamu
tahu? aku disini sedang tidak baik-baik saja, sejujurnya yang ingin aku lakukan
sejak dulu kepadamu adalah mengadu rasa ini, sakit ini, kepadamu bukan, bukan
aku bermaksud untuk membebanimu aku hanya ingin kamu tahu menunggumu,
mengagumimu dari kejauhan itu membuatku. Lelah.