Minggu, 21 Juli 2013

Singgahan yang Terakhir

Aku masih melihatmu dalam diam, aku masih memandangmu dari jauh, aku masih mencuri kabarmu dari jejaring sosial, aku masih membaca ulang teks pesan yang pernah kau kirim lewat handphoneku, dan aku masih belum berani untuk mengungkapkan jika aku merindukanmu. Harusnya aku tahu kabar yang slalu kamu kirim lewat pesan itu tidak akan pernah berarti apa-apa untukku, karena kamu hanya memberinya secara cuma-cuma sebatas keinginanmu jika kamu bosan saat itu.

Bukan hanya aku yang slalu kamu beri teks pesan saat kamu bosan, tapi hanya aku yang paling akhir kamu beri pesan itu jika kamu bosan. Mungkin ada juga yang slalu kamu beri pesan setiap saat, karena saat itu kamu merindukannya ingin memberi tahu padanya jika kamu sedang baik-baik saja atau sebaliknya. Memberinya candaan untuk dia tertawa ketika dia merasa sendirian kamu mengahiburnya. Sementara aku, kamu datang untuk dihiburku. Memberimu sedikit kata untuk melewati waktu bosanmu disetiap pesan yang kamu baca.

Mungkin setiap dua hari sekali, bisa juga setiap satu minggu sekali, atau bahkan dua minggu sekali, dan kadang-kadang juga kamu baru memberiku pesan disetiap satu bulan sekali, tapi aku tetap membacanya lalu membalasnya. Kenapa semua selalu terlihat baik pada dirimu, sedangkan aku hanya bisa menunggumu. Itu buruk.Aku tahu ini tidak adil bagiku tapi kenapa aku masih mengharapkan pesan darimu? Bukan kebodohan karena aku harus menunggu pesan singkatmu, tapi hanya ini yang bisa aku lakukan sebagai perempuan. Menunggumu. Jika suatu saat nanti kamu lebih memilih wanita lain itu memang sudah menjadi ceritanya, karena aku hanya sebagai singgahanmu yang terakhir ketika kamu bosan dengan yang lain.

Jika pada akhirnya aku hanya singgahanmu yang terakhir, kenapa kamu slalu memberiku keyakinan jika saat itu kamu juga merindukanku.

AKAPAS :))

Detik-detik menjelang kenaikan, pindahnya tempat kelas, tingkat kelas yang lebih tinggi, umur yang lebih tua, tahun yang semakin maju, dan kita masih tetap sama AKAPAS. Pertemanan berawal dari perkenalan tapi tidak pernah berakhir pada perpisahan. Dimanapun dan bagaimanapun kita tidak menghilangkan kata persahabatan diantara kita bukan? aku untuk kamu, kamu untuk aku itu sebuah cuplikan dari lirik peri cintaku terdengar seperti sepasang kekasih memang tapi ya itulah persahabatan harus bisa menjadi semuanya. Ketika kita menganggap kita sama maka kita adalah keluarga, ketika kita saling berbagi maka kita adalah teman, dan ketika kita saling menjaga membuat keromantisan yang ada maka kita adalah sepasang kekasih. Cinta itu terlahir dari berbagai rasa, rasa itu terlahir dari hati kemudian menjadi kasih juga sayang yang tidak akan pernah hilang, dan terlupakan. Ketika kita sudah saling memahami, mengagumi satu sama lain. menjaga, melindungi, dan memiliki rasa untuk melepas tidak akan pernah terbesit difikir karena apapun dan bagaimanapun, aku ini dan kalian semua sudah menjadi kita. Kenanglah kita kapanpun kalian mau, datanglah jika kau ada masalah, dan kembali lagi ketika masalahmu sudah usai. Jangan pernah tinggalkan kita, karena kita semanya tidak akan pernah hilang selalu ada hanya saja mungkin berjalannya waktu kita sedikit tersisihkan oleh kata yang lain. Anak KelAs Pojok kAnan ataS begitulah kata yang kita sebut sebagai "kita" gabungan dari berbagai huruf yang masih rancu memang, ANAK KELAS POJOK KANAN ATAS kita ambil dari lokasi tempat kelas kita jika kita pandang dari sisi saat kita menaiki tangga menuju kelas. Dipojok kanan atas itu ada kelas yang sebenarnya bernama aslikan X5 (sepuluh lima)

Aku tidak akan pernah melupana sedikitpun kenangan dari kita, cerita kita, canda kita. Aku slalu merindukan kalian, yang tidak pernah mengenal perbedaan antara status, keyakinan, dan rasa.


i want we are stay the same like first.

KAMU, terimakasih

Hi, apa kabar? masih ingatkah kau denganku? masih tahukan namaku? sudah lama kita tak jumpa, mungkin hampir 2 tahun sejak pertemuan kita saat itu. Aku disini masih kusempatkan untuk mengingatmu, masih sering kuucapkan disetiap sujudku, memberi tahu pada tuhan jika aku ingin melihatmu. Pepatah mengatakan jika jodoh tak lari kemana ada juga jika jodoh kita pasti bertemu kembali. Hukum alam sudah membuktikan dengan adanya, kamu memilih lari bersama perempuan lain kemudian pergi dari hidupku, tidak memberiku kabar hanya aku yang mencari kabar tentangmu karena kita tidak pernah bertemu lagi. Lalu jika sudah tahu, bodohkah aku yang disini masih menunggumu untuk kembali? dosakah aku yang masih menyelipkan namamu disetiap do'aku? haruskah kamu yang slalu hadir dalam mimpiku? bisakah aku merasakan hal yang sama dengan seorang pria lain sama seperti aku merasakan saat aku mengingatmu, menyebut namamu disetiap sujudku?

Rasa bodoh itu tidak datang bagi kamu, tapi datang bagiku. Kamu tidak pernah memberi rasa itu, hanya aku yang bermimpi untuk memiliki rasa darimu. Hatimu. Bahkan kamu melihatku sama dengan teman perempuan lainmu, tapi aku slalu melihatmu berbeda dengan teman pria lainku. Aku slalu menyebutmu istimewa dalam hidupku, karena matamu yang membuatku begini. Mencuri hatiku tapi tidak bisa ku curi hatimu. Itu yang membuatku sakit. Dulu, aku slalu ingin bisa mencuri sedikit dari bongkahan rasa dihatimu walau hanya secuil berharap suatu saat nanti akan menjadi bongkahan itu walau memang tidak bisa terlihat sama seperti dulu. Berbeda, banyak retakan, banyak celah kecil. Keinginan itu berhenti sampai disini, aku mulai melupakanmu, tidak menyebut namamu disetiap sujudku, tidak sama sekal. Aku mulai sadar, rasa itu tidak akan pernah ada bagimu, jika melupakanmu sejak dulu itu sulit biarkan aku yang akan mengenangnya, menyimpan dalam kotak kecil, lalu menguburnya.

Kamu, terimakasih telah memberiku rasa yang sia-sia yang seharusnya sejak dulu aku tahu tidak akan pernah tersampaikan untuk 'kita'. Terimakasih juga sudah membuatku merasakan bagaimana mencintai seseorang, membuatku mengerti baigaimana merindukan seseorang, dan membuatku tahu bagaimana menangisi seseorang. Selamanya kamu akan tetap menjadi kamu dan aku akan tetap menjadi aku, juga selalu "aku dan kamu" tidak pernah menjadi "kita"