GAUN PUTIH DARI BOBI
Diam dalam sepi. Hanya ada aku dan dia. Disini membisu dalam seribu bahasa. Tak terucap sedikitpun kata. Ingin rasanya aku memulai. Tapi tak mungkin, diri ini haya seorang wanita. Harusnya kau tahu apa yang akan kau lakukan, wahai pria keluarkanlah nyalimu, aku hanya ingin mendengar suaramu.
“aku rasa sampai disini” ucap awal critanya.
“maksudmu?”
“hubungan kita berakhir?” bobi berdiri dari kursi ini, dia mencoba untuk beranjak pergi
“kenapa” tanganku yang menolaknya dia pergi
Ku tatap dua bola matamu
Tersirat apa yang kan terjadi
Kau ingin pergi dariku
Meninggalkan semua kenangan menutup lembar cerita
Oh, sayangku aku tak mau
Ku tahu semua akan berakhir
Tapi ku tak rela lepaskanmu
Kau Tanya mengapa aku tak ingin pergi darimu
Dan mulutku diam membisu
Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu
Jangan tanyakan mengapa karena ku tak tahu
Akupun tak ingin bila kau pergi tinggalkan aku
Masihkah ada hasratmu tuk mencintaiku lagi
Dia tak pernah peduli lagi, semenjak ia kuliah di singapur. Aku hanya ingin hubungan kita tak berujung pada masalah. Kenapa dia berubah?? Dalam fikirku mungkin ada wanita lain yang ia sukai di singapur sana. Pandanganku tak beralih pada sosok pria yang baru saja meninggalkan ku pergi tanpa tahu bagaimana perasaanku sekarang.
***
“hai, sya kemana aja lo, satu bulan. Gila ya lo, pak alan nyariin tuh,..” sapa rina dengan pukulan kecil di punggungku.
“ke ARAB..” jawabku jutek, rina tak tahu yang sebenarnya kalau aku dan bobi sudah berakhir.
“ngapain,.??” Tanyanya penasaran.
“udah ah, gue mau ada urusan..” aku pergi meninggalkan rina.
Setelah putus dengan bobi, hidupku rusak. Sering bolos kuliah, jarang makan, bahkan tak pulang ke rumah 2 hari. Semuanya hilang terbawa oleh ambang-ambang fikiranku tentang “mengapa bobi meninggalkanku??”. Berbagai informasi sudah aku cari tentang dia tinggal di mana saat kuliahnya di singapur, kuliah di universitas mana, dan dengan siapa dia di sana. Tapi semuanya belum pasti, karena aku belum pernah melihatnya dengan kedua mataku.
**
Semenjak perpisahan itu, sedikit demi sedikit aku mulai membukaan pintu hatiku untuk pria lain. Dan membuang semua masa lalu tentang aku dan dia. Yudha adalah kekasih baruku yang sudah 2 bulan ini bisa membuatku lebih tenang dan menghilangkan rasaku jauh jauh terhadap bobi.
Entah mengapa, hari ini aku ingin pergi ke toko boneka yang dulu pernah bobi berikan boneka singa mungil coklat itu. Aku disini bersama yudha. Toko ini menjadi sepi setelah perpisahan itu, karena satu satunya pelanggan tetap yang suka membuat keributan di toko ini hanyalah aku dan bobi. Ku telusuri lorong lorong toko boneka itu satu persatu, melihat dengan sedetail detailnya tentang kenangan kenangan masa lalu. Sudah tiga lorong yang aku lewati disini, bermaksud bobi ada di sini. Lorong berikutnya di sana ada 2 sepasang kekasih yang sedang bercanda gurau persis bersama boneka yang dulu pernah bobi berikan padaku.
Di sini hanya ada kami ber3 aku, dan sepasang kekasih itu. Perlahan lahan aku melangkah tapi pasti menuju tepat pada boneka singa itu dan sepasang kekasih itu.
Tahukan kamu, hati ku berdetak cepat. Hampir saja jantung ini serasa copot, dan tubuh ini tidak kuat untuk menompang beban yang begitu berat. Sepasang kekasih itu bobi dan wanita di sampingnya. Mata ini tak pernah berkedip sedikitpun, bahkan bola mataku tak melirik kearah yang lain selain bobi, dan boneka itu.
“shasha,..” dia menatapku, sama hal saat ia menatapku untuk yang terakhir kalinya.
Yudha yang saat itu melihatnya heran, apa yang sebenarnya terjadi?? Tentang aku dan bobi. Ku raih tangan yudha dan menggenggamnya kuat kuat dan pergi meninggalkan mereka yang mungkin juga akan bingung akan hal itu.
***
6 bulan lamanya,…
“slamat siang mba, dengan mba shasaha?”
“iya, saya sendiri ada apa ya?”
“ini ada kiriman, tolong tanda tangani di sini”
**
Ku buka apa isi dari paket itu yang bertuliskan “untuk shasha” tiba tiba
Ada satu pesan singkat dari bobi
Besok, aku akan pulang ke Indonesia. Aku mau kamu datang ke rumah aku, dengan gaun putih yang pernah aku berikan untuk kamu. Jadilah yang tercantik di sana. Aku menunggumu.
Keesokan harinya,…
Tak terlihat tanda-tanda bobi di sini, hanya ada keluarga dan beberapa kerabatnya yang datang dengan baju hitam-hitam. Hanya aku di sini yang memakai baju berwarna putih. Semua orang melihat penampilanku, yang mungkin agak sedikit aneh, karena di antara mereka hanya akulah yang berdandan laksana putri raja. Sedangkan mereka hanya memakai baju biasa, tanpa olesan mek-up di wajahnya.
Dalam benakku apa yang terjadi?? Tak ada yang mau memberi tahu, tentang apa yang terjadi di sini. Ini hanyalah penyambutan bobi datang kembali, bukan acara perpisahan yang mengharukan. Di sudut sana ku lihat perempuan yang pernah aku temui di toko boneka bersama bobi 3 bulan yang lalu.
Hampir 2 jam lamanya, aku menunggu kehadiran bobi, tapi tak pernah ada yang berhenti mengangis. Aku keluar untuk mencari udara segar di sini, kemudian terdengara suara mobil ambulance dengan di sertai bendera kuning. Kembali hatiku bertanya, apa yang terjadi dengan bobi??. Hpku bergetar, kulihat ada satu panggilan tak terjawab, kemudian bobi tiba-tiba saja menelfonku.
“hallo, bobi kamu ada di mana??”
“maaf, aku harus pergi. AKU SAYANG KAMU sya,..” tak sempat aku menjawab telfon dari bobi, tiba-tiba saja telfon itu mati.
Semakin banyak disini orang yang menangis, dan tiba tiba saja dengan kehadirannya ambulance itu hatiku begitu dekat dengan bobi. Ada seseorang yang terbaring di sana. Tak ada yang pernah membuka tutup kain itu dari wajahnya. Hanya duduk diam dan menangis.
Sekarang, semakin penasarannya hatiku, apa yang terjadi?? Apakah bobi baik baik saja??. Tante ratna memandangku lekat lekat, seperti ada yang ia ingin katakan padaku. Dia menghampiriku. Kini semakin jelas apa yang terjadi?? Ku lihat mata tante ratna memerah bengkak, persis seperti orang yang menangis semalam.
“sya,... apa kabar??” tanyanya, dengan senyuman yang mungkin akan sedikit memaksakan, karena aku tahu dia baru saja menangis.
“baik tante, mm bobinya mana ya? Tante??” jawabku penasaran
“duduk yu,.. di sana” tante menunjukan arah ke tempat kursi kasik itu.
“dia sakit, hanya 6 bulan yang tersisa. Tante mau mengucapkan trimakasih sama kamu, dia bisa bertahan demi kamu selama 2 tahun terakhir ini. Mungkin tuhan berkehendak lain, sehingga bobi menyuruh tante untuk cepat pulang ke indonesia, dan bertemu kamu disini.” Sekarang aku tahu, apa maksud dari semua ini. Orang yang terbaring di sana adalah bobi..!! lalu, yang baru saja menelfon itu siapa?
Tak aku hirauakan orang-orang di sekelilingku, yang mencoba untuk menahan air mata ini. Aku berjalan bersama perasaan takut yang dari dulu kurasaakan, orang yang sangat aku sayang itu meninggalkan ku tanpa aku tahu. Kini hanyalah aku yang berani membuka tutup kain itu, yang mengenai wajah pucatnya. Ingin aku bertanya tentang satu hal padanya “bobi, apakah kau masih mencintaiku??” jika ia akan menjawab “tidak” tapi aku akan menyangkalanya dengan kata “iya”. Dengan perlahan, ku sandarkan bibirku di kening bobi. Dan berkata:
“bobi, kenapa kamu bohong sama aku, kenapa kamu tinggalin aku, bobi harusnya aku tahu kamu sakit. Kenapa kamu biarin aku kaya gini?? Bobi makasih ya, gaun putih ini akan aku simpan baik baik, tapi kamu juga harus janji sama aku kamu juga harus baik baik di sana, aku janji suatu saat nanti aku akan nyusul kamu, dan kita akan kaya dulu lagi. AKU SAYANG KAMU BOB,”
SELESAI...
By. Anggie wulan r
Tidak ada komentar:
Posting Komentar