Kamis, 23 Februari 2012

part 1

Kisah si senyum playboy dan gadis jutek

Si planet merah sudah berada di garis puncak dimana ia bersinar.  Air keringatku mulai perlahan mengalir, di tambah emosiku kini sedang tidak labil jadi wajarlah, jika ocehan bebek itu terdegar tak karuan. Entah apa yang ada dalam benakku, hanya ada bagaimana cara untuk meluapkan rasa kesalku ini, yang terlanjur terkubur dalam dalam di dalam tubuhku. “huh,.. cape” omelku, dira yang mendengarnya hanya melihatku lalu menggeleng dan kembali membaca novel yang ada di tanggannya.
“tujuan kita sebenarnya kemana sih??” ucap kata tanyaku
“nunggu angkot, terus konsul” jawabnya pendek.

Gejolak amarahku sekarang sudah berada pada level 9 kemudian berlanjut ke level 10. Aku berdiri dari kursi, lalu melirik sinis pada dira. “jangan perhatikan novelnya, perhatikan juga anggotnya. Kalau caranya kaya gini, mana bisa dapet angkot??” teriak kesal yang tak berujung. Dira yang mendengarnya, hanya terdiam, lalu menusukkan telunjuknya pada lubang telinga.
“iya, tuh angkotnya “ tunjuknya pada angkot kuning itu.

Pijakan kaki ku ketegaskan keras keras pada bumi. Lalu melangkah maju, dan berjalan layak anak kecil tak dapat permen gratisnya. Dalam ruang sempit ini, aku berbagi ruang pada penumpang lainnya. Berdesak sesak, merapat rekat, bagai lem. Emosiku semakin menjulang tinggi sampai puncak, kuremaskan telapak tanggan pada rok smpku, untuk memuaskan rasa kesalku terhadap anak anak smp lain yang bercanda tak bermutu, sampai tertawa layak nenek sihir di dalam angkot kecil ini. Ahhh,.. ingin ku teriak tapi, aku hanya bisa terdiam menelan rasa kesesalanku yang semula hanya beberapa level saja. Dalam renungan menunggu anak anak smp itu turun, atau aku yang sampai pada tempat akhir, datang segerombol anak laki laki satu tahun lebih tua dariku. Ya,.. aku keysha anak 3 smp 8 bandung, yang kini sedang berada pada ujung masalah. Sudah cukup bagiku, kekonyolan konyolan yang di buat oleh anak smp smp itu, kini datang sekumpulan laki laki yang sok bertampang ok, gaul, dan bla bla bla… kini emosiku sudah sedikit menurun, yah sedikit bisa terkontlol.

Senyum playboynya yang keren dan manis itu, membuat aku ingin tersenyum. Senyumnya memang menyakitkan, tapi aku rasa itu rasa dimana dari salah satu sekumpulan lelaki itu untuk mengungkapkan rasa senangnya, mungkin melihat kekonyolan yang di buat anak smp smp itu. Tatapannya tajam, tapi merindukan. Sekejap ku alihkan pandanganku pada yang lain, tidak ingin terbawa oleh Susana playboynya. 

Beberapa meter lagi, cerita dalam angkot ini akan berakhir. Aku bergegas bersiap, merapikan beberapa helai kain bajuku lalu berkata “kirrriiiii,..” dengan cepat angkot mengerem lalu berhenti. Dengan dua kaki sekaligus aku turun dari angkot, lalu membayar dua helai kertas. Dira yang mendahuluiku melesat pergi masuk kedalam, sedangkan aku masih tetap berdiri melihat lelaki itu melongokkan kepalanya dari balik jendela dan tersenyum, sampai laju angkot itu tak terlihat lagi.

***
Omelan omelan alaremku sudah terdengar membosankan. Setengah malas aku bangun lalu melihat jam dinding, “oh, baru jam setengah enam toh??” tanpa sadar, aku kembali merebakan tubuhku dalam ranjang, lalu mencari posisi nyaman. Dalam mimpiku, aku bermimpi kalau mamah sedang menyiramku dengan segayung air. Dalam mimpiku juga aku bisa merasakan bagaimana ocehan mamah terdengar melesat sampai telingaku, tanpa sadar aku meraba bantal gulingku yang tentu basah. Aku bangun dari mimpi lalu melihat mamah berdiri di depanku dengan matanya yang melotot. “ampun mahhh,…” putaran tangan itu menekan kuat di telingaku sehingga terasa pedas.

**
Pintu gerbang hampir menutup, dengan cepat aku melesat bagai anak panah. Syukurlah, aku bisa masuk tanpa harus di beri hukuman karena terlambat. Ku lontarkan senyumku pada pak satpam yang berjaga kala itu, karena sudah memberiku kesampatan. Langkah langkah ini penuh kepuasan, puas atas hasil kuberlari cepat demi mengejar gerbang itu. Langkah ku terhenti pada salah satu ruang kelas IXA. Banyak anak anak bertebaran dimana mana, mereka duduk bukan dalam posisi yang sesungguhnya, memang seperti inilah Susana kelas jika bel belum berbunyi, kacau berantakan.

“dira, masalah kansul yang kemarin aku masih belum ngerti nih??” manjaku yang tiba tiba saja mengejutkan dira yang asik dengan novelnya.
“yang mana??” tanyanya
“yang ini,” tunjukku pada soal no 9

Belum selesai dira mengajariku, tiba tiba saja pengawas datang. Kericuhan yang dibuat anak anak berubah menjadi kebisuan. Sunyi, hanya ada suara KM menyiapkan salam pada pengawas TO. Waktu menjelang UN tinggal beberapa bulan lagi, jadi kami harus ekstra kerja keras untuk belajar, dan salah satunya adalah dengan mengadakan TO (tri out) sekolah.

Lembaran lembaran soal ku bolak balikan secara berulang. Memilih jawaban diantara pilihan a,b,c dan d, jika ragu aku hanya bisa memilih sesuai keyakinan hati. Tenang ini TO yang terakhir ucapku dalam hati.
 Mata ku melirik kesana dan kemari, terlihat wajah wajah mereka yang tampak kebingungan menatap lekat soal, lalu menggelang geleng kepala tanda “TIDAK TAHU”. Aku masih bisa tertawa disaat mereka kebingungan, padahal akupun begitu. Lama waktu yang mereka berikan untuk kami mengerjakan berpuluh puluh soal yang tentunya membuat kami pusing. Akhirnya, bel berbunyi tanda waktu sudah habis kini ,tiba waktunya untuk kami  mengumpulkan lembar jawaban dan soal kemudian beranjak pergi dan pulang.

“key, kamu sekarang les kan??” tanya zeze yang tiba tiba saja muncul didepanku.
“iya, tapi ini jam berapa?? Masih lama kan??” keluhku
“jadi??” tanyanya kembali.
“ke perpus umum yu??” ajakku pada zeze, yang terlihat malas jika dengar kata “PERPUS”
“yah,. Apa boleh buat??” jawabnya menyerah.

Sudah hampir 3 menit kami menunggu angot datang, tapi tetap tak ada satupun angkot yang berhenti dan mau menerima kami. Setelah cukup bersabar, akhirnya angkot datang menjemput, lalu melaju cepat meninggalkan smp 8 bandung. Kini aku tak harus berdesak desak lagi dengan penumpang yang lain, karena angkot ini hanya mendapat penumpang 4 orang, yaitu aku, zeze, dan 2 orang yang tak ku kenal. Seiringnya jalan, aku memperhatikan jalan jalan disekitar tak ada yang menakjubkan hanya saja aku suka jika melihat arah belakang dari angkot. Perlahan lahan angkot itu mendekati jalan yang didepan, kemudian pergi begitu saja tanpa ada jejak sedikitpun. Seperti jejak sisenyum playboy manis itu, dia datang tiba tiba lalu pergi tak meninggalkan jejak sedikitpun.

“heh, key.. itu perpusnya kelewat” bentak zeze dalam lamunanku.
“eh,.. iya kiriiii” teriakku sepontan.

Kami turun kemudian melaju arah berlawanan dan mencari cari letak perpus yang sudah kami lewati. Kini kami sudah berada di depan perpus, yang terhalang oleh jalan penuh kendara. Dengan hati hati kami melaju setapak demi setapak untuk menghindari dari kendara itu. Kita (aku dan dia) bertatap mata walau hanya sesaat, dia melaju dengan motornya dan aku melangkah dengan kakiku, kendara dan langkah itu terus melaju tapi tatap mata kita terus mengawasi sampai jarak yang memisahkan kita.
“eh, key lihat jalan kedepan dong?? Jangan kebelakang” bentak zeze tak karuan.
“iya, iya”belaku.

**
Usai meminjam beberapa buku, kami pergi meninggalkan perpus. Jarak antara tempat les kami dan perpus lumayan tidak terlalu jauh, jadi kami hanya berjalan untuk menuju tempat les. Bunyi bel itu terdengar sampai keluar, “ya tuhan,.. kita telat lagi” kagetku pada zeze. Kami berhenti untuk bertatap wajah sebentar, lalu berlari ketakutan.

Garis finis sudah ada di depan mata, hanya butuh keberanian untuk membuka pintu supaya kami bisa masuk dan belajar. Suasana kala itu tidaklah menegangkan hanya kekonyolan, dari tadi kami berdiri menatap satu persatu diantara kami, siapa yang paling berani masuk pertama dan mengucapkan salam. Gemetar tanganku menekan gagang pintu itu, akhirnya terbuka juga. Belum kami duduk, guru yang saat itu mengajar mengucapkan salam lalu keluar meninggalkan kelas.

“kalian habis dari mana aja??” Tanya farah teman satu kelas.
“loh?? Pelajarannya habis ya?” tanyaku kepolosan.
“kamu gak denger?? Tadi ada bel??” Sela sonya.
“loh?? Bukannya itu bel masuk yah??” saut zeze terlalu polos. Tak ada jawaban dari mereka semua, mereka hanya diam lalu membalik arah dari posisi hadap kami.
“jajan yu??” ajak zeze tiba tiba. Aku tak menjawab, berbalik arah lalu pergi meninggalkan kelas tanpa menaruh tas yang masih saja tergendong.

Aku melangkah tanpa arah, seperti manusia tak tahu arah mata angin. Membiarkan zeze yang terus saja berkicau ditelingaku sehingga aku merasa risih lalu kupercepat langkahku bermaksud meninggalkan zeze dibelakangku.

Perutku mulai memberontak, mungkin didalam perutku cacing cacing itu demo atas perlakuanku yang sedari pagi belum makan sama sekali. Syukurlah, ada banyak pilihan jajanan di sini ada bapau, siomay dll. Tepat di depan tempat les ku, ada lapangan sepak bola. Disana banyak anak anak yang berkumpul mengenakan seragam sepak bola, mungkin akan ada pertandingan?? Fikirku. Dua orang datang dengan sepeda motornya, yang satu menyetir dan lainnya membonceng. Baju berwana hijau itu tampak persis seperti lelaki si senyum playboy itu, dia baru saja mendapat baju sepak bola berwarna hijau dan berno punggung 12 tertera di atas no punggung itu tertulis nama IQBAL. Apakan lelaki itu bernama IQBAL??


Tidak ada komentar:

Posting Komentar