Kisah si senyum playboy dan Gadis jutek
Waktu tlah berubah dengan aturannya, bulan pun berganti sesuai urutanya. Kini, hanya beberapa menit lagi aku melepaskan gelarku sebagai pelajar SMP. UN sudah kami lewati. Setelah ada rintangan pasti ada jawaban, jawaban kami menang atau kalah?? Selempang kalung kelulusan itu sudah melingkar di leher kami. Berdandan sebagai ratu dan raja karena kamilah penguasa pesta ini. Bahagia karena kami bisa, menangis karena kami harus berpisah. Hanya lembaran gambar itu yang bisa menjadikan kenang kenangan dari akhir sebuah kisah. Berjabat tangan lalu memeluk tanda kami harus berpisah. “slamat tinggal kawan” ucapku perlahan.
***
Mataku terbelalak melihat luasnya SMA 13 bandung ini. Di tanganku kini tergenggam secarik kertas denah menuju kelas baruku. Terpesonanya aku melihat berbagai gedung gedung tinggi yang membuatku harus mendongak jika mau terlihat ujung atasnya. Dalam langkahku, aku tak pernah melihat arah hanya melangkah sesuai keinginanku. Kini langkahku terhenti pada sebuah tangga kecil, dengan ragu aku menaiki anak tangga itu satu persatu. Semakin banyak aku menginjak anak tangga ini, semakin jauh jarak yang aku lewati, dalam benakku “apakah ini jebakan??” sempat kaki ini tak mau bergerak karena ia lelah, tapi karena tekadku kuat aku ingin sampai dimana anak tangga itu berhenti. Sudah 35 anak tangga yang kunaiki, tapi tetap tak ada ujungnya, kutinggikan kakiku keatas diaman anak tangga itu berhenti, dan di sana hanya beberapa langkah lagi terdapat pintu. Bibirku setengah melingkar bagai bulan sabit, “akhirnya, sampai juga.” Ucapku menang.
Klikk,.. suara cklikan gagang pintu itu, yang ternyata tak terkunci sama sekali. Perlahan aku membuka pintu bermaksud ada kejutan dibalik pintu itu, dan waw!! Dibalik pintu itu ternyata gedung tak berdinding puncak dari sebuah gedung tertinggi di sekolah ini. Angin angin itu berjabat dengan kain kain yang kukenakan, sehingga rok ini terbalik. Alunan angin itu menenangkan hatiku, kemudian mengingatkan aku tentang mos pertamaku. Ku lirik jam tanganku sudah menunjukan pukul 08.00.
“gawat, telat nih” aku berlari keluar mencari pintu itu, kemudian menuruni anak tangga dengan cepat. Setelah berhasil melewati anak tangga itu, tubuhku terbungkuk dengan tompangan dua tangan diatas lutut kakiku kemudian terengah engah. Setelah puas bernafas aku kembali berlari dan mencari kelas baruku. Dalam kecepatan 80 kilo/meter aku mengerem disebuah pintu kelas yang terjaga seorang lelaki tinggi bertolak belakang dari arahku.
“permisi,saya mau lewat??” mohonku.
Lelaki itu berbalik arah, “kamu telat?? Jam berapa ini, gak konsisten banget sih??” tegasnya.
Aku hanya bisa terdiam, tak berani menjawab bukan karena aku takut, tapi karena lelaki si senyum playboy itu kini berada di depanku dan memarahiku.
Lambaian tanganya menyapa disetiap selasela mataku, dekat dan sangat dekat. Tapi aku tak berani menegurnya untuk tidak melambaikan tangan itu terlalu dekat. Aku hanya terdiam melihat gayanya yang lucu.
“woy!!” bentaknya. Suara itu baru saja meledakan telingaku sehingga dengan reflex aku mengusap telingaku tanda kesakitan.
“maaf, tadi ke..sa..sar.. ka” jawabku sedikit gagap. Dia hanya menggelang kepala lalu, pergi meninggalkanku tanpa menyurukku masuk kekelas.
***
Hamparan gedung gedung tinggi itu, terlihat jelas didepan mataku. Berdiri tegak merentangkan tanganku dan memejamkan mata lalu aku bisa merasakan udara segar ini. Sunyi hanya suara angin angin itu bersahutan yang terdengar di telingaku. Beberapa petikan gitar menemani rasa kesendirian, aku duduk bersimpuh tapi aku tak bermain gitar. Jantungku berdebar cepat, saatku menyadari bahwa ada seseorang selain aku disini.
Aku tak berani bergerak dari tempat yang kuhuni sekarang, hanya antena telinga itu yang terus memancar, mencari sumber dimana suara itu berasal. Beberapa saat kemudian, aku mendengar seorang lelaki menyanyi lagu lagu sendu, mungkin dia sedang patah hati. Liriknya yang puitis membuatku terhanyaut akan sosok penciptanya, suaranya yang merdu mengingatku ingin bertemu siapa pemiliknya. Ketenangan itu harus berakhir karena suara bel menyuruhku pergi dari sini.
Berkali kali aku menengok jam tanganku, sudah hampir dua jam aku menunggu angkot itu datang, tapi tak aku temukan dia. Emosiku terus melaju sampai menjadi yang teratas, aku tak pernah suka jika harus menunggu dan menunggu, belum lagi panasnya matahari membuatku sedikit pusing. dari lubang hidungku ada sesuatu yang mengalir tapi bukan air, dia merah dan kental. Kuusap perlahan dengan tanganku, lalu bergegas membersihkannya kembali dengan tisu yang ada di genggaman tanganku. Tingkahku yang kepanikan kala itu, mencoba tetap tengan dengan menaruh perhatian pada sekelilingnya, di ujung sana lelaki si senyum playboy itu melihatku jenuh, tapi tertarik akan aku. Dia berjalan mendekatiku, lalu mengambil sapu tangannya dari balik saku celannya dan mengusap darah darah itu sampai bersih.
“kamu, habis makan apa?? Kok sausnya sampai belepotan gini??” tanyanya padaku. Dia fikir, ini saus tomat yang belepotan sampai lubang hidungku. Katanya, perhatiannya dan tatapannya membuatku terhipnotis akan tingkahnya.
“mmm,.. iya tadi habis makan,..”jawabku gugup.
“kamu keysha anak 10A yang tadi telat kan??” ucapnya kembali. Aku hanya mengangguk lalu menunduk.
Beberapa menit kemudian laju angkot itu menjemput kami yang hampir saja menjamur. Dia mengekang kuat pergelangan tanganku lalu menarikku masuk angkot dan duduk di sampingnya. Aku bisa merasakan duduk berdampingan dengan orang asing tapi merasa dekat dan nyaman, dia hanya melirikku dengan senyuman manisnya itu. Sapu tangan berwarna biru muda tadi, ia lipat dengan rapih lalu memasukan ke saku bajunya.
“nama kaka siapa??” ucap perkenalanku.
“IQBAL” jawabnya singkat. Senyum playboynya yang manis itu dia tunjukan lagi, sekarang bertambah dengan tatapan tajamnya. Aku terpaku hanya bisa terdiam menatap matanya, membisu. Tak lama dia tersenyum kemudian dia bangkit dari tempat duduknya, memukul punggung supir lalu berkata “kirrii,..” seketika angkot mengerem dan berhenti dimana dia ingin berhenti. Angkot ini melaju meninggalkan kak iqbal sendiri berdiri disana, aku hanya bisa menatap untuk kata perpisahan.
***
“Key, reno kecelakaan. Dia meninggal, sekarang anak anak pada mau ngelayat. Kamu mau ikut??” jelas dira pada telefon. aku hanya bisa terdiam kala itu, air mataku pun turun dengan sendirinya. Ya tuhan,.. orang yang dulu pernah menyatakan cintanya padaku, yang mau berbagi kisahnya denganku kini telah pergi. Reno, kenapa kamu harus pergi disaat aku membutuhkanmu. Aku memang tak pernah menyukainnya, tapi hati ini begitu hancurnya setelah tahu dia tlah pergi dari sisiku. Kertas tisu tisu itu berhamburan pergi mengikuti gerak gerik angin yang membawa sejuta air mata. “ahhhhh,… renooo” suara itu bergema keras dan sangat keras. aku terjatuh dan terduduk, lemas tak berdaya, “reno, yang sakit aku bukan kamu!! Kenapa kamu yang pergi?? Lalu aku bagaimana??” jeritan hati ini terus saja mengucap tanpa henti.
Kertas tisu itu terbang melayang mengikuti nada nada angin, sampai terhenti di mata seorang lelaki yang asik tengah mengisap beberapa puntUng rokok. “tisu siapa nih??” herannya dalam hati. Lelaki itu mencari dimana tisu tisu itu berawal. Dia hanya bisa terdiam, emosinya tak lagi tercium hanya ada rasa kekaguman pada seseorang gadis yang duduk di sana menyanyikan sebuah lagu dengan merdunya. Lagu itu lagu yang pernah lelaki itu bawakan untuk kekasihnya yang sudah tiada. Lembaran cerita cerita dia buka perlahan demi perlahan, menyaksikan di setiap kisahnya. Matanya memerah bukan karena kemarahan tapi karena keharuan yang ada dalam kisah cerita hidupnya, wanita yang sangat ia sayangi meninggal akibat kecelakaan di atas ambang penglihatannya. Gitar yang dia genggam kala itu terjatuh dan menjadi beberapa kepingan kemudian pergi dan berlari.
Jatuhan gitar terdengar sampai telinga. Aku melihatnya dengan samar karena tertutup air mata. Ku usap perlahan, melihat lelaki itu berlalu aku terheran. Gitarnya tak lagi bersatu sudah pecah berantakan, bahkan senarnya pun sudah putus dari jeratnya. Melihat gitar itu hancur kini aku bisa membayangkan bagaimana hancurnya tubuh reno saat itu, darah darah bercucuran, matanya tak lagi memandang, dan detak jantungnya tak lagi berdenyut. Ku peluk erat gitar itu bayangkan sebagai tubuh reno yang hancur seperti gitar itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar