Pertemanan kita tidak cukup lama, tidak juga cukup singkat
untuk dikatakan sebagai berteman. Aku menyimpan ceritamu, begitupun kamu. Banyak
hal yang terjadi dalam setiap kata diobrolan, kadang kau bergurau, kadang kau
marah tanpa sebab, kadang juga kau merayu entah dengan tujuan apa.
Aneh memang,
berteman tanpa mendengar suara, tanpa menatap muka hanya bisa melihat kamu dari
sebuah foto profilmu yang setengah kau edit agar terlihat lebih menarik dari
yang aslinya, ah aku tidak perdulikan itu. Entah harus kepada siapa aku
bercerita, kepada siapa aku meminta, agar aku bisa kembali bersama berteman
denganmu lagi. Mungkin sudah hampir setengah tahun ini kita tidak memberi kata
pada obrolan “hai, apa kabar?” kata singkat namun mampu membuatku tersenyum. Maaf,
aku tidak brani untuk menunjukan jati diriku, ketika dulu kau ajak aku untuk
jalan. Berpuluh kali aku menolak, maaf.
Usia kita tidak terlalu jauh
berbeda,namun kau mampu bersikap lebih dewasa. Memberi arahan jika aku salah,
menginginkan sesuatu merengek seperti anak-anak. Kau membenarkannya, jika aku
sudah dewasa bukan anak-anak lagi.
Sudah beratus kali aku mencarimu dalam
pencarian berbagai jejaring sosial berharap ada salah satunya yang masih aktif,
mungkin kita bisa berteman seperti awal lagi, tapi ternyata saat itu kau
benar-benar menghilang, entah karena apa. Hey, aku tahu kamu disana. Aku tahu
kamu membaca ini. Aku tahu kamu masih ada, tidak pergi juga menghilang. Jadi,
bisakah kamu memberiku sebuah kata dalam obrolan “apa kabar?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar