pertama kali aku melihatmu, dengan kawat digigimu membawa sebongkah pot bunga. bersama kawanmu kau lakukan itu. waktu itu sedang penutupan mos SMA ku. aku berada pojok kanan dari barisan peserta mos, dan kau pun berada beberapa meter dari tempatku. kau tersenyum, membiarkanku menyimak ada apa di balik bibirmu. dulu, aku memang menyukai seorang yang memakai kacamata, dulu juga aku menyukai seseorang yang berambut cepak, karena kau datang waktu itu aku merubah semuanya, sekarang aku menyukai seseorang dengan rambut panjang menutup dahinya juga kawat yang mempagar di gigimu, membuat bibir tipismu menjadi lebih manis.dengan sebongkah pot itu kau layangkan pada temanmu untuk memberikan pot bunga itu kepada teman satu kelas mos ku bernyanyi di depan lapangan hanya untuk mengikuti lomba. saat kawanmu melakukannya, semua tertawa juga ada telapak masing dari tubuhnya yang di hentakkan. hanya itu pertemuan singkat, membuatku tahu akan sosokmu.
sejak itu, aku tak lagi bisa melihatmu.
TEATER. pertunjukan seni yang memaparkan akting dalam berdialog, mereka bersandiwara untuk menjadikan mereka sebagai peran dalam naskah. entah itu baik atau buruk, entah itu senang atau sedih, entah marah atau kecewa mereka harus menjadi itu semua. bagiku bersandiwara hanya untuk menjadikan mereka sebagai peran yang baik sekalipun peran antagonis, itu membuatku lebih baik ketimbang memilih tidak bersandiwara dengan menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
MUNAFIK. entah kenapa aku sangat berantusias dengan teater kali ini, judulnya
aku vs ayahku bayangku pun muncul mungkin dari cerita itu muncul banyak konflik antara anak dan ayahnya atau juga cerita itu bisa menjadi lebih menegangkan dari cerita horor, tapi ternyata
TIDAK sesekali aku mengantuk melihat disetiap adegannya, memang banyak konflik, memang diantara pemerannya memacu emosi, tapi ada satu hal yang membuatku harus mengantuk lantunan suara itu yang begitu lembut membuatku harus kembali menompang wajahku dengan telapak tangan agar tidak terjatuh. dia ada di samping ku, jelas sangat jelas, dekat sangat dekat, hanya saja aku tidak berani untuk enatapnya lebih lama hanya berani sekali lirik juga berlalu. dia mengucapkan disetiap syair lagu dengan hati, penuh perasaan. lembut sepeti adonan rainbow cake, berwarna seperi warna rainbow cake, juga indah seperti rainbow cake. jujur suaramu yang membuatku kagum akan sosokmu, kau bisa menyanyi se lembut itu tapi aku tak bisa padahal akulah wanita dan kau lelaki. sekejap aku mengingat tentang pertama kali aku melihatmu, terakhir waktu mos. ya kau lah lelaki itu, dan pertemuan keduaku lah di teater itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar